Senin, 30 November 2009

Kelompok V: Pengendalian Vektor di Kawasan Pantai & Pesisir

Kelompok V

  1. Andi Haerani
  2. Rahmatullah
  3. Muharti Syamsul
  4. Imran
  5. Ratih Puspitasari

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Pesisir merupakan wilayah yang sangat berarti bagi kehidupan manusia di bumi. Sebagai wilayah peralihan darat dan laut yang memiliki keunikan ekosistem, dunia memiliki kepedulian terhadap wilayah ini, khususnya di bidang lingkungan dalam konteks pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Kawasan pesisir juga dipahami sebagai Kawasan tempat bertemunya berbagai kepentingan, baik Masyarakat, Pemerintah Kabupaten, dan Investor dalam rangka memanfaatkan potensi kawasan pesisir. Kawasan Pesisir adalah kawasan yang sangat kaya akan sumber daya alam dan sangat potensial sebagai modal dasar pembangaunan nasional

Secara historis, kota- kota penting dunia bertempat tidak jauh dari laut. Alasannya, kawasan ini memiliki potensi sumber daya kelautan dan perikanan, serta memudahkan terjadinya pedagangan antar daerah, pulau dan benua. Selain itu, wilayah pesisir juga merupakan daerah penghambat masuknya gelombang besar air laut ke darat, yaitu dengan keberadaan hutan mangrove.

Pada masa Orde Baru, pengaturan wilayah pesisir dan laut lebih banyak dilakukan oleh pemerintah pusat. Hal ini dapat dilihat pada UU nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang pasal 9 ayat 2 dimana dinyatakan bahwa wilayah lautan dan wilayah udara diatur secara terpusat menurut undang-undang. Namun di masa reformasi, dengan kelahiran UU Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, Kabupaten/Kota memiliki kewenangan mengatur wilayah perairan yang ada di wilayahnya sejauh 4 mil dari garis pantai. Selain itu juga diterbitkan Undang- Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.

Era global peradaban di tahun milenium ketiga, ditengarai dengan kemajuan pesat di bidang teknologi dan transportasi, perdagangan bebas, mobilitas penduduk antar negara – antar wilayah yang sedemikian cepat membawa dampak terhadap kehidupan masyarakat global yang harus dikelola dengan baik.

Dampak negatif di bidang kesehatan pada tingkatan kemajuan teknologi transportasi, perdagangan bebas maupun mobilitas penduduk antar negara, antar wilayah tersebut adalah percepatan perpindahan dan penyebaran pentakit menular potensial wabah yang dibawa oleh alat angkut, orang maupun barang bawaannya.

Dalam rangka melindungi negara dari penularan/penyebaran penyakit oleh serangga (vektor) maupun kuman /bakteri yang terbawa oleh alat angkut, dan barang bawaan yang masuk melalui pintu-pintu masuk negara tersebut, berdasarkan International Health Regulation (IHR) Tahun 2005 yang berlaku, “semua alat angkut harus bebas dari vektor”.

B. RUMUSAN MASALAH

Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah:

1. Apa dan bagaimana peran Vektor?

2. Apa permasalahan masyarakat di wilayah pesisir?

3. Bagaimana pengendalian vektor di wilayah pantai dan pesisir?

4. Contoh kasus pengendalian vektor di wilayah pantai!

C. TUJUAN DAN MANFAAT

Tujuan dalam pembahasan ini adalah

1. Untuk mengetahui peran vektor.

2. Untuk mengetahui permasalahan di wilayah pesisir.

3. Agar mengetahui cara pengendalian vektor di wilayah pantai dan pesisir.

4. Mengetahui dan menerapkan contoh kasus pengendalian vektor di wilayah pantai.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Peranan Vektor

Secara definisi vektor adalah parasit arthropoda dan siput air yang berfungsi sebagai penular penyakit baik pada manusia maupun hewan. Ada beberapa jenis vektor dilihat dari cara kerjanya sebagai penular penyakit. Keberadaan vektor ini sangat penting karena kalau tidak ada vektor maka penyakit tersebut juga tidak akan menyebar.

Vektor potensial adalah vektor yang secara aktif berperan dalam penyebaran penyakit. Vektor ini baik secara biologis maupun mekananis selalu mencari hospesnya untuk kelangsungan hidupnya. Selain itu ada vektor pasif, artinya secara ilmiah dapat dibuktikan bahwa dalam tubuh vektor ada agen patogen dan dapat menularkan agen tersebut kepada hospes lain, tetapi vektor ini tidak aktif mencari mangsanya. Dengan adanya perubahan lingkungan, kemungkinan vektor tersebut dapat berubah menjadi aktif.

Vektor biologis, dimana agen penyakit harus mengalami perkembangan ke stadium lebih lanjut. Bila tidak ada vektor maka agen penyakit kemungkinan akan mati. Contoh yang paling mudah adalah schistosomiasis, penyakit akibat cacing Schistosoma japonicum. Larva (miracidium) masuk ke dalam tubuh siput, berkembang menjadi sporocyst dan selanjutnya menjadi redia, kemudian menjadi cercaria yang akan keluar dari tubuh siput, aktif mencari definif host, melalui kulit dimana akan terjadi dermatitis (SOULSBY, 1982).

Vektor mekanis, dimana agen penyakit tidak mengalami perkembangan, tetapi hanya sebagai pembawa agen penyakit. Tidak seperti penyakit malaria atau arbovirus dimana terjadinya infeksi cukup satu kali gigitan vektor yang sudah terinfeksi, pada infeksi filaria, vektor harus sering menggigit hospesnya agar terjadi infeksi. Diperkirakan lebih dari 100 gigitan agar cacing dapat bereproduksi dan menghasilkan mikrofilaria.

Vektor insidentil, vektor ini secara kebetulan hinggap pada manusia, kemudian mengeluarkan faeces yang sudah terkontaminasi agen penyakit dekat mulut. Secara tidak sengaja masuk ke dalam mulut, contohnya pada penyakit Chagas yang disebabkan oleh Trypanosoma cruzi dan vektor yang berperan adalah Triatoma bugs. Vektornya sebenarnya masuk dalam siklus silvatik, hanya diantara hewan rodensia. Manusia terkontaminasi bila vektornya masuk dalam lingkungan manusia.

B. Permasalahan Wilayah Pesisir

Ada beberapa masalah yang terjadi dalam pembangunan wilayah pesisir dan lautan di Indonesia antara lain adalah pencemaran, degradasi habitat, over eksploitasi sumber daya alam, abrasi pantai, konversi kawasan lindung menjadi peruntukan pembangunan lainnya, dan bencana alam.

a. Pencemaran

Pencemaran laut adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan laut oleh kegiatan manusia sehingga kualitasnya menurun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan laut tidak sesuai lagi dengan baku mutu dan/atau fungsinya (DKP RI, 2002).

Masalah pencemaran ini disebabkan karena aktivitas manusia seperti pembukaan lahan untuk pertanian, pengembangan kota dan industri, penebangan kayu dan penambangan di Daerah Aliran Sungai (DAS). Pembukaan lahan atas sebagai bagian dari kegiatan pertanian telah meningkatkan limbah pertanian baik padat maupun cair yang masuk ke perairan pesisir dan laut melalui aliran sungai. Begitu juga dengan vektor pembawa penyakit, apalagi dengan kondisi sanitasi lingkungan yang masih memprihatinkan.

Pengembangan kota dan industri merupakan sumber bahan sedimen dan pencemaran perairan pesisir dan laut. Pesatnya perkembangan pemukiman dan kota telah meningkatkan jumlah sampah baik padat maupun cair yang merupakan sumber pencemaran pesisir dan laut yang sulit dikontrol. Sehingga berdampak pada kesehatan masyarakat di wilayah tersebut.

b. Kerusakan Fisik Habitat

Kerusakan fisik habitat wilayah pesisir dan lautan telah mengakibatkan penurunan kualitas ekosistem. Hal ini terjadi pada ekosistem mangrove, terumbu karang, dan rumput laut atau padang lamun. Kebanyakan rusaknya habitat di daerah pesisir adalah akibat aktivitas manusia seperti konversi hutan mangrove untuk kepentingan pemukiman, pembangunan infrastruktur, dan perikanan tambak. Indonesia memiliki cadangan hutan mangrove tropis terluas di dunia dengan luas sekitar 3,8 juta ha atau sekitar 30 – 40 % dari jumlah seluruh hutan mangrove dunia Hutan mangrove di Indonesia terpusat di Irian Jaya dan Maluku (71%), Sumatra (16 %), Kalimantan (9 %) dan Sulawesi ( 2,5 %). Namun akibat dari aktivitas manusia, pada tahun 1970 – 1980, luas hutan mangrove Indonesia berkurang sekitar 700.000 ha untuk penggunaan lahan lainnya (Nugroho dkk 2001).

c. Eksploitasi sumber daya secara berlebihan

Ada beberapa sumber daya perikanan yang telah dieksploitir secara berlebihan (overfishing), termasuk udang, ikan demersal, palagis kecil, dan ikan karang.

d. Abrasi Pantai

Ada 2 faktor yang menyebabkan terjadinya abrasi pantai, yaitu : (1) proses alami (karena gerakan gelombang pada pantai terbuka), (2) aktivitas manusia. upportEmptyParas]-->

e. Konversi Kawasan Lindung ke Penggunaan Lainnya.

Dewasa ini banyak sekali terjadi pergeseran penggunaan lahan. Akibatnya terjadi kerusakan ekosistem di sekitar pesisir, terutama ekosistem mangrove. Jika ekosistem mangrove rusak dan bahkan punah, maka hal yang akan terjadi adalah (1) regenerasi stok ikan dan udang terancam, (2) terjadi pencemaran laut oleh bahan pencemar yang sebelumnya diikat oleh hutan mangrove, (3) pedangkalan perairan pantai, (4) erosi garis pantai dan intrusi garam.

f. Bencana Alam

Bencana alam merupakan kejadian alami yang berdampak negatif pada sumber daya pesisir dan lautan diluar kontrol manusia. Beberapa macam bencana alam yang sering terjadi di wilayah pesisir dan merusak lingkungan pesisir antara lain adalah kenaikan muka laut, gelombang pasang tsunami, dan radiasi ultra violet.

C. Pengendalian Vektor Di Wilayah Pantai Dan Pesisir

1. Migrasi burung

Masyarakat diharapkan mewaspadai, dan berhati-hati terhadap burung yang berimigrasi dari suatu tempat ke tempat lain. Sebab, kemungkinan burung membawa virus flu burung. Mengingat, burung-burung tersebut biasanya tersebar di pantai laut Pulau Jawa dan daerah lain yang banyak persediaan makanan burung.

Masyarakat harus melakukan gerakan lingkungan bersih dan sehat dalam menjaga kesehatannya. Dengan cara mengadakan semprotan pembasmi bakteri vaktogen dan obat insektisida untuk membunuh lalat dan larvanya dilaksanakan rutin seminggu sekali. Penyemprotan dikhususkan pada rumah penduduk di tepi pantai, pasar ayam, tempat pemotongan, dan kios ayam.

penyemprotan disinfektan ini dilakukan sebagai upaya awal untuk mencegah dan menghambat berkembangnya virus flu burung.

2. Pencegahan Vektor Masuk Di Daerah Pantai Atau Pesisir Melalui Kapal

Pencegahan vektor masuk di daerah pesisir atau pantai dengan dilaksanakannya program disinseksi yaitu untuk menghindari kapal dari serangga/vektor penyebab/penular penyakit (tikus, kecoak, nyamuk Aedes Aegypti/Anopheles) yang terbawa oleh alat angkut penumpang/barang di Pelabuhan.

Prosedur Tindakan Disinseksi Berdasarkan Peraturan Dirjen PP & PL

1. Penggunaan alat pelindung diri sebelum melakukan tindakan disinseksi misalnya, sarung tangan, masker, sepatu boat, dll

2. Penggunaan peralatan untuk disinseksi, misalnya, hand sprayer, mist blower, dan electric sprayer.

3. Pelaksanaan disinseksi dilakukan sebagai berikut:

a. Untuk bagian-bagian kapal yang tersembunyi seperti lubang-lubang kecil di lantai dan tempat-tempat sulit menggunakan hand sprayer ataupun mist blower.

b. Untuk ruang lebar terbulca menggunakan ULV electric sprayer.

c. Mengisi formulir isian yang memuat data tentang nama bahan pestisida/insektisida yang digunakan volume berat bahan pestisida yang digunakan, bahan pelami, catatan (waktu, hari dan tanggal pelaksanaan), nama petugas pelaksana dan supervisor yang bertanggungjawab.

d. Membuat laporan pelaksanaan secara tertulis.

4. Pengawasan disinseksi oleh petugas KKP

a. Melakukan pengawasan atas seluruh kegiatan disinseksi yang dilakukan oleh BUS (Badan Usaha Swasta)

b. Memberikan masukan, saran, maupun teguran kepada BUS agar pelaksanaan kegiatan disinseksi sesuai standar.

c. Membuat laporan tertulis

Hambatan & Upaya Pelaksanaan Tindakan Disinseksi. Adapun kapal yang di disinseksi yaitu kapal barang atau kargo, dan untuk kapal penumpang hanya diberikan peringatan secara lisan karena berbagai kendala, salah satunya yaitu, kapal penumpang hanya transit pada suatu daerah dalam waktu beberapa jam, dan keadaan kapal sangat sulit dikosongkan dari manusia. Sedangkan untuk pelaksanaan disinseksi diperlukan waktu yang cukup lama (sesuai ukuran kapal) dan dan kapal harus kosong dari manusia dan barang yang mudah terkontaminasi oleh racun yang ditimbulkan oleh pestisida /insektisida yang digunakan untuk disinseksi.

2. Memutus daur hidup

Setiap vektor mempunyai siklus hidup yang berbeda-beda, mulai dari telur, larva atau nimfe dan dewasa. Semuanya ini mempunyai karakteristik sendiri yang spesifik dan sangat dipengaruhi keadaan lingkungan. Oleh karena itu pengetahuan tentang epidemiologi dari vektor tersebut sangat penting dan diperlukan untuk membuat program penanggulangannya. Keakuratan data dari sistim di alam yang menyangkut sistim vektor borne disease dan agen penyakit-vektor-hospes akan mempengaruhi model program penanggulangan yang akan diajukan.

3. Penggunaan insektisida

Insektisida digunakan untuk membunuh serangga. Beberapa jenis insektisida yang sering digunakan mulai dari organochlorine, organofosfat, carbamate, pyrethrin dan jenisjenis yang lain baik derivatnya maupun campurannya akan berfungsi untuk membunuh serangga. Metoda pemberian insektisida adalah dengan sistim pengasapan (fogging), tetapi perlu diperhatikan juga berapa lama insektisida tersebut masih aktif, karena fogging kebanyakkan di perumahan. Residual insektida mungkin lebih baik digunakan karena mempunyai efek jangka panjang. Selain fogging, perlu juga digunakan repellent untuk mencegah vektor tidak menggigit manusia. Untuk mengurangi kontak dengan nyamuk, orang sering menggunakan kelambu yang sudah ada insektisida (impregnated net).

D. Contoh kasus pengendalian vektor malaria di wilayah pantai

Kabupaten Simeulue yang pada umum masyarakatnya bermukim disepanjang pantai, daerah perkebunan dan persawahan, sejak terjadinya bencana alam. Gempa dan Tsunami 26 Desember 2004 serta gempa 28 Maret 2005 telah merobah tatanan kehidupan, perilaku serta keadaan pemukiman masyarakat sehingga keadaan masyarakat ditinjau dari segi kesehatan sangat memprihatinkan, masyarakat berpindah ke tempat yang baru dengan hidup apa adanya apalagi pulau Simeulue merupakan daerah Endemis Malaria,

Kabupaten Simeulue telah melakukan berbagai upaya – upaya seperti :

1. Sosialisasi dan advokasi pada Pemerintah Daerah/sektor terkait

2. Peningkatan mutu dan kualitas petugas malaria tingkat Kabupaten dan Kecamatan

3. Menjalin kerjasama dengan Depkes RI, Dinkes Provinsi NAD dan sektor terkait.

4. Menjalin kemitraan dengan Badan Donor/NGO

5. Menyusun buku Muatan Lokal Malaria untuk SD,SMP,SMA

6. Membuat Qanun Malaria

Pada tahun 2007 Dinas Kesehatan telah melaksanakan beberapa kegiatan melalui dana APBD TK II dan bantuan dari GF ATM, Mentor dan Unicef antara lain :

Þ Pencarian Kasus

Pencarian dan Pengobatan penderita Penyakit Malaria di 8 Kecamatan.

Þ Pengendalian Vektor

1. Kelambunisasi

2. IRS (Penyemprotan Rumah)

3. Larvaciding

Þ Survey Vektor Penular penyakit Malaria

Dari upaya-upaya yang telah dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Simeulue melalui program Malaria perkembangan penurunan kasus dari tahun ke tahun Pada tahun 2006 Malaria klinis 3.309 kasus dan yang positif 669 kasus.

BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Dari pembahasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa:

1. Keberadaan vektor ini sangat penting karena kalau tidak ada vektor maka penyakit tersebut juga tidak akan menyebar.

2. Permasalahan wilayah pesisir sangat penting khususnya masalah pencemaran yang terkait dengan perkembangbiakan vektor. Ini di sebabkan karana pencemaran lingkungan berhubungan langsung dengan sanita di tempat tersebut.

3. Masyarakat diharapkan mewaspadai, dan berhati-hati terhadap burung yang berimigrasi dari suatu tempat ke tempat lain. Sebab, kemungkinan burung membawa virus flu burung

4. Pentingnya dilakukan disinseksi agar kapal terhindar dari vektor pembawa penyakit, dan agar kapal terhindar dari penyakit menular.

5. Pembangunan kesehatan tetap merupakan kebutuhan masyarakat yang akan meningkat secara terus menerus, sesuai dengan perkembangan pembangunan secara nasional. Untuk itu upaya-upaya dibidang kesehatan dalam lebih ditingkatkan agar hasil pembangunan kesehatan dapat terus ditingkatkan

B. SARAN

Pengendalian vektor di wilayah pesisir bukanlah hal yang mudah, karena itu di harapkan partisipasi pemerintah, sekarang saatnya melirik dan memperhatikan wilayah pesisir, mengingat begitu banyak potensi di wilayah tersebut termasuk sebagai tempat wisata bahari. Karena itu daerah pesisir pun harus diperhatikan tingakat kesehatan dan kesejahteraan masyarakatnya.

DAFTAR PUSTAKA

Bagus Kurniawan, “Diduga Penyebar Virus AI, Burung di Pantai Trisik Diteliti”, http://www.detiknews.com/read/2006/03/08/225034/555147/10/diduga-penyebar-virus-ai-burung-di-pantai-trisik-diteliti, akses 26 November 2009.

Chandra budiman, “Pengantar Kesehatan Lingkungan”, Penerbit buku kedokteran EGC, Jakarta, 2007.

Departemen Kelautan dan Perikanan R.I., 2002. Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. : Kep. 10/Men/2002 Tentang Pedoman Umum Perencanaan Pengelolaan Pesisir Terpadu.

Mardiana, “ Penelitian Bioekologi Vektor Di Daerah Pantai Dan Pedalaman Jawa Timu”r, http://www.ekologi.litbang.depkes.go.id/data/abstrak/Mardiana200001.pdf akses 26 November 2009.

Nugroho, dkk. 2001. Pengelolaan Wilayah Pesisir untuk Pemanfaatan Sumber daya Alam yang Berkelanjutan (Peper Kelompok IV Mata Kuliah Falsafah Sain, IPB).

Prianto, Dwi, “Analisa Kebijakan Pengelolaan Potensi Kawasan Pesisir Kabupaten Gresik”, http://digilib.its.ac.id/detil.php?id=4892, akses 28 November 2009.

Profil kesehatan kabupaten simeulue, http://www.depkes.go.id/downloads/profil/kab%20simeulue%202007.pdf,akses 28 November 2009.

Siswono, “Lalat adalah Vektor Mekanis dan Biologi”, http://www.gizi.net/cgi-bin/berita/fullnews.cgi?newsid1127708435,66349, akses 28 November 2009.

45 komentar:

Anonim mengatakan...

abd majid hr lagu
70200106070
ass..
1.sejauh manakah pengaruh pencemaran terhadap perkembangan suatu vektor penyakit di daerah pesisir?
2.vektor apa saja yang berkembang di daerah pesisir? berdasarkan data yang ada mana yang paling berbahaya?

Anonim mengatakan...

Risnawati Anwas/70200106063

Saya cukup tertarik dengan makalah yang disajikan oleh teman-teman dari kelompok V. Berdasarkan isi makalah, saya ingin menanyakan beberapa hal, :
1. Mengapa bionomik vektor rata-rata mengikuti perkembangan kegiatan manusia...???
2. Kekuatan hukum apa yang dimiliki kawasan pesisir dalam konteks penanganan masalah vektor di daerah tersebut...???
Thx...............

Aswadi mengatakan...

NAMA :ASWADI
NIM 70200106050
1.jelaskan cara penjegahaan masuknya vektor ke daerah pesisir?? dan kendala yang di hadapinya???

Anonim mengatakan...

Nama : Risno
Nim : 70200106042
smlequm.....
pertanyaan saya...!!!
1. Apakah ada dampaknya bila hutan mangrove mengalami pengrusakan terhadap perkembangan vektor penyakit.? kalau ada jelaskan kenapa demikian ..?
2. mengapa eksplotasi sumber daya secara berlebihan dikatakan sebagai masalah dalam pembngunan wilayah pesisir ??? jelaskan???? thanks

Anonim mengatakan...

NAMA: MUARIFA MUSLIMIN
NIM: 70200106083
KELOMPOK IV

ASSALAMUALAIKUM... TOK..TOK... HE..HE...
MAKALAH KELOMPOK INI CUKUP BAGUS, ADAPUN YANG INGIN SAYA TANYAKAN PADA KELOMPOK INI YAITU;
Pencegahan Vektor Masuk Di Daerah Pantai Atau Pesisir Melalui Kapal yaitu dgn berbagai cara misalx diadakan program desinfeksi. pertanyaan saya bagaimana merealisasikan hal tersebut. qt ketahui bahwa untuk melakukan hal tersebut misal dgn penyemprotan desinfeksi perlu waktu yang cukup lama. sedangkan penumpang yang barada di ats kapal itu tidak pernah kosongklopun perlu di kosongkan itu perlu memakan waktu yang cukup lama.. bagaimana pendapat anda mengenai hal ini.
kemudian apakah ada upaya yang efektif dan efisien dalam mengatasi hal tersebut??
sekian n makasih.. ^_^

Anonim mengatakan...

masjuniarty/70200106081

Assalamu Alaikum....
Berdasarkan makalah yang ada sajikan yang ingin saya tanyakan yaitu jelaskan cara penularan arthropodborne disease di kawasan pesisir dan beri contoh???

Anonim mengatakan...

UMMUL WAQIAH (70200106092 /KLP. 6)
Assalamu ‘alaykum wr. wb.

Dalam makalah saudara dituliskan bahwa “Untuk mengurangi kontak dengan nyamuk, orang sering menggunakan kelambu yang sudah ada insektisida”. Hal ini baru pertama kali saya mendengarkannya. Pertanyaan:
1.Apakah tidak ada efek samping terhadap kesehatan pengguna kelambu tersebut? Baik setelah menyentuh/memegang kelambu maupun pada saat memakai kelambu. Jika ada, tolong disebutkan!
2.Untuk pencegahan penyakit Demam Berdarah Dengue yang disebabkan oleh Aedes aegypti dan Malaria yang diakibatkan oleh Anopheles sp di kawasan pantai dan pesisir, upaya apa saja yang perlu dilakukan? Dan diantara semua upaya tersebut, upaya yang mana yang paling efektif untuk dilaksanakan??

Terima kasih...

Anonim mengatakan...

mutmainna/70200106086/klp; VI


Dari makalah diatas yach cukup menarik tapi yang menjadi pertanyaan saya adalah:
1. dari isi UU 27 THN 07 Tentang pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. namun perlu diklarifikasi bahwa tenyata masih ada satu wilayah yang menjual pulau sendiri dengan negara lain tanpa sepengetahuan pemerintah, berari hal ini tidak sejalan denga UU diatas bagaimana menurut anda tentang penyelesaian kasusu tersebut?

Anonim mengatakan...

Nama : Dina Fauziah Bahtiar
Nim : 70200106004

Assalamualaikum Wr. Wb.
setelah saya membaca makalah anda tentang pengendalian vektor dengan menggunakan insektisida, menurut saya hal ini belum efektif digunakan karena masih adanya vektor yang resistent dan adanya dampak yang negatif terhadap kesehatan, apakah ada cara lain yang lebih efektif dilakukan selain yang ada dimakalah anda?

Anonim mengatakan...

Andi Haerani/ 70200106072

terima kasih atas pertanyaan dan tanggapan dari teman-teman,

kepada saudara Abdul Majid,
1. Wilayah pesisir memiliki nilai strategis bagi pengembangan ekonomi nasional dan peningkatan kesejahteraan masyarakat dan sekaligus merupakan wilayah yang sangat rentan terhadap kerusakan dan perusakan, termasuk pencemaran. Oleh sebab itu diperlukan pengelolaan yang bijaksana dengan menempatkan kepentingan ekonomi secara proporsional dengan kepentingan lingkungan, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Adanya/perkembangan suatu vektor di wilayah pesisir tidak hanya berasal dari pencemaran, tapi jelasnya semakin tinggi tingkat pencemaran maka semakin besar peluang vektor khususnya lalat dan nyamuk berkembang biak. Seperti di kabupaten Simeule setelah terjadinya bencana Tsunami, tingkat pencemaran juga semakin besar dan penyakit malaria juga meningkat.
2. saya kira semua vektor bisa saja berkembang di daerah pesisir, dan yang namanya vektor itu pembawa penyakit jadi otomatis semuanya berbahaya bagi lingkungan dan masyarakat di daerah tersebut.

Anonim mengatakan...

Andi Haerani/ 70200106072

makasi aswadi atas pertanyaannya,
saya kira pada makalah di atas telah di jelaskan cara pengendalian vektor di wilayah pesisir dan disitu juga sudah ada pencagahannya.
1. Masyarakat diharapkan mewaspadai, dan berhati-hati terhadap burung yang berimigrasi dari suatu tempat ke tempat lain. Sebab, kemungkinan burung membawa virus flu burung. Mengingat, burung-burung tersebut biasanya tersebar di pantai laut Pulau Jawa dan daerah lain yang banyak persediaan makanan burung.
2. dilaksanakannya program disinseksi yaitu untuk menghindari kapal dari serangga/vektor penyebab/penular penyakit (tikus, kecoak, nyamuk Aedes Aegypti/Anopheles) yang terbawa oleh alat angkut penumpang/barang di Pelabuhan.
3. memutus daur hidup, misalnya nyamuk dengan memberantas telur dan larvanya
4. Penggunaan Insektisida, dengan fogging dll.
Adapun kendala yang di hadapi yaitu
1. kesadaran masyarakat itu sendiri
2. biaya yang lumayan mahal
3. disenfeksi pada kapal, Tidak semua kapal juga dapat didisinseksi, misalnya kapal penumpang. Sangat sulit bahkan tidak pernah dilakukan disinseksi pada kapal penumpang karena berbagai kendala salah satunya yaitu tidak dapat memenuhi prosedur tindakan disinseksi yaitu, kapal harus dalam keadaan kosong. Sedangkan kapal penumpang sangat sulit untuk di kosongkan dari penumpang apalagi jadwal/lama transitnya sangat singkat, salah satu sebabnya karena mahalnya biaya parkir kapal di pelabuhan.
syukran....,

Anonim mengatakan...

Andi Haerani/ 7020010607
Alaikun salam Muarifa Muslimin....
Kapal yang di disinseksi yaitu kapal barang atau kargo, dan untuk kapal penumpang hanya diberikan peringatan secara lisan karena berbagai kendala, salah satunya yaitu, kapal penumpang hanya transit pada suatu daerah dalam waktu beberapa jam, dan keadaan kapal sangat sulit dikosongkan dari manusia. Sedangkan untuk pelaksanaan disinseksi diperlukan waktu yang cukup lama (sesuai ukuran kapal) dan kapal harus kosong dari manusia dan barang yang mudah terkontaminasi oleh racun yang ditimbulkan oleh pestisida /insektisida yang digunakan untuk disinseksi.

salah satu upaya yang dilakukan Dalam rangka melindungi negara dari penularan/penyebaran penyakit oleh serangga (vektor) maupun kuman /bakteri yang terbawa oleh alat angkut, dan barang bawaan yang masuk melalui pintu-pintu masuk negara tersebut, berdasarkan International Health Regulation (IHR) Tahun 2005 yang berlaku, “semua alat angkut harus bebas dari vektor”, maka setiap Kantor Kasehatan Pelabuhan (KKP) harus mampu melakukan tindakan disinseksi(untuk mencegah vektor).
Syukran....

Anonim mengatakan...

Muharti Syamsul (70200106085)

Kepada Saudariku Ummul Waqiah..
Makasih atas pertanyaannya sayang,
Saya kira penggunaan kelambu itu tidak memillki efek sampingnya untuk kesehatan sebagaimana yg kita ktahui bahwa Untuk menghindari gigitan nyamuk saat kita tidur, di balik kelambu ternyata lebih aman, efektif, mudah, dan murah daripada menggunakan obat nyamuk. Tidur di balik kelambu dapat menghindarkan gigitan nyamuk hampir 100%. Kelambu, perangkat tempat tidur berbahan kain yang bertekstur halus. Pada masa lalu, kelambu memang menjadi asesoris wajib tempat tidur. Seiring perkembangan waktu, keberadaan kelambu kian terdesak karena dianggap kuno dan tak praktis. Tapi pada kenyataannya, kelambulah yg paling aman di gunakan untuk menghindar dari kejaran dan gigitan nyamuk yg penting orang yg menggunakan kelambu itu yah sadar diri akan kebersihan klo kelambu itu jg harus dicuci pling tidak sekali dalam seminggi untuk menghilangkan debu2 yg melengket,,,
kemudian upaya2 yg dilakukan untuk menghindari demam berdarah dan malaria yaitu ,mencegah perkembang biakan vektor seperti menguras bak mandi, mengubur kaleng bekas, fogging dan menghindari gigitan nyamuk salah satunya dengan penggunaan kelambu saat tidur di malam hari. cara yang paling efektif yaitu bersihkan rumah utamanya t4 nyamuk untuk bersarang seperti mengurangu gantungan2 baju, membersihkan kamar mandi.

trims,,,

Anonim mengatakan...

Andi HAerani/ 70200106072

makasi atas pertanyaan dari saudari dina fauziah.
pengendalian vektor dengan menggunakan insektisida atau bahan kimia memang merupakan tindakan pengendalian tahap akhir yang di anjurkan, tapi bukan berarti itu tidak efisien untuk dilaksanakan. ini di sebabkan karena penggunaan insektisida tersebut menyalahi aturan. maka perlu adanya kesadaran masyarakat dalam penggunaan setiap bahan insektisida.
selain yang di jelaskan pada makalah, salah satu program yg mesti direalisasikan yaitu program 3M+.
Syukran.......

Anonim mengatakan...

NAMA : SAHRIANI
NIM : 70200106044

ASSLAM.makasih untuk waktunya, ada pun Pertanyaan saya yang pertama: jelaskan pengendalian vektor DBD, MALARIA, DAN LALAT. kemudian yang kedua Menurut anda pengendalian vektor yang paling baik dilakukan di kawasan pantai dan pesisir yang tidak mengganggu kesehatan dan lingkungan ???

Anonim mengatakan...

PAKE-PAKEMI DULU ITU KAWAN....!!!

Anonim mengatakan...

Muharti Syamsul (70200106085)

Makasih kepada saudari sahriani atas pertanyaannya. Saya akan mencb menjawabnya yaitu ;
1.-Pengendalian vektor DBD :
membersihkan saluran pembuangan limbah, drainase, dan sampah sehingga tempat penampungan air sebagai habitat perkembangbiakan nyamuk DBD tidak tersentuh.
-meningkatkan pemaham terhadap masyarakat melalui penyuluhan, kampanye, atau promosi kesehatan tentang DBD, vektor, cara penularan, serta cara pencegahan dan pengendaliannya secara berkesinambungan dan memutuskan rantai penularan.
2.Pengendalian vektor malaria :
-mengurangi laju penularan dari vektor ke manusia, dengan mencegah dan atau mengurangi jumlah kontak nyamuk vektor-parasit-manusia.
-menerapkan evidence based
-intensifikasi
-komprehensif
3.Pengendalian vektor lalat :
-ada 2 cara yaitu nonkimia, mencegah pertambahan populasi dgn menjaga sanitasi dan diikuti dgn menutup semua akses masuk lalat dalm bangunan mis.pemasangan kawat.
-secra kimia, menggunakan racun serangga untukmembunuh larva di t4 penimbunan sampah organik atw di t4 perkembangbiakannya.
-monitoring dan evaluasi.

kemudian pertanyaan yg kedua yaitu pengendalian yg pling baik digunakan di pantai pesisir yaitu menurut sy sebaiknya dimulai dari pribadi maing2, dgn menjaga kesehatan sj itu sdh membantu untuk mencgah msuknya vektor.
trima kasih...

Anonim mengatakan...

Muharti Syamsul (79299196985)
Tambahan untuk pertanyaan Ummul Waqiah..

Tidur di bawah kelambu berinsektisida adalah cara yang baik untuk mencegah dan mengendalikan malaria. Kelambu ini diberi insektisida BINET 25 EC dosis 0,00625;0,0125;0,0250;dan 0,30 g dan sejauh ini yaitu slama penggunaan kelambu yg dicelup binet 25 EC tdk ada laporan adanya keluhan dan pemilik rumah yg menggunakan kelambu itu berdasarkan sumber stasiun penelitian vektor penyakit, pusat penelitian ekologi kesehtan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan DepKes RI.
MAKASIH...

Anonim mengatakan...

nama : Amriati
kelompok 1
70200106001

assalamualaikum...
sebelumnya saudari a.haerani telah menjawab pertanyaan saudara aji.bahwa semua vektor bisa berkembang didaerah pesisir. yang ingin saya tanyakan adalah
1. vektor apa yang perkembangbiakannya paling mendominasi kawasan pesisir?? dan bagaimana cara mengendalikannya??
2.sejauh mana peranan pemerintah dalam pengendalian vektor yang ada dikawasan pesisir??

trims....!!!

Anonim mengatakan...

ASMAWATI/70200106028

berdasarkan jenis-jenis vektor yang anda jelaskan di atas jenis vektor apakah yang paling banyak didaerah pesisir pantai dan sangat berbahaya bagi kesehatan masyarakat yang ada di daerah pesisir pantai dan apakah peranan pemerintah dalam mengatasi vektor tersebut?????

Anonim mengatakan...

saudari...asma...bacaki...dulu komentar2 yang lain sebelum komenki....alnya samaki komentarta.
thanks....
" rhi@ "

Anonim mengatakan...

rahmatullah/70200106040
terima kasih atas p'taxxan dr saudara abd majid..
sedikit saya menambahkan mengenai pengaruh pencemaran terhadap vektor di kawasan pesisir.
Perubahan cuaca dan lautan dapat berupa peningkatan temperatur secara global (panas) yang dapat mengakibatkan munculnya penyakit-penyakit yang berhubungan dengan panas (heat stroke.Pergeseran ekosistem dapat memberi dampak pada penyebaran penyakit melalui air (Waterborne diseases) maupun penyebaran penyakit melalui vektor (vector-borne diseases). Mengapa hal ini bisa terjadi? Kita ambil contoh meningkatnya kejadian Demam Berdarah. Nyamuk Aedes aegypti sebagai vektor penyakit ini memiliki pola hidup dan berkembang biak pada daerah panas. Hal itulah yang menyebabkan penyakit ini banyak berkembang di daerah pesisir yang panas dibandingkan dengan daerah pegunungan yang dingin. Degradasi Lingkungan yang disebabkan oleh pencemaran limbah pada sungai juga berkontribusi pada waterborne diseases dan vector-borne disease. Jd sejauh ini pencemaran sangat mempengaruhi perkembangan vector penyakit di daerah pesisir.

Anonim mengatakan...

rahmatullah/70200106040
Untuk penyakit yang ditularkan oleh arthropoda seperti malaria, demam kuning, masa penularannya atau masa infektivitasnya adalah pada saat bibit penyakit ada dalam jumlah cukup dalam tubuh manusia baik itu dalam darah maupun jaringan tubuh lainnya dari orang yang terinfeksi sehingga memungkinkan vector terinfeksi dan menularkannya kepada orang lain.
Masa penularan untuk vector arthropoda yaitu pada saat bibit penyakit dapat disemikan dalam jaringan tubuh arthropoda dalam bentuk tertentu dalam jaringan tertentu (stadium infektif) sehingga dapat ditularkan.
contohnya:
-Vektor perantara penyakit bagi manusia.Misalnya nyamuk malaria, nyamuk demam berdarah, lalat tsetse sebagai vektor penyakit tidur, dan lalat rumah sebagai vektor penyakit tifus.
-Menimbulkan gangguan pada manusia.Misalnya caplak penyebab kudis, kutu kepala, dan kutu busuk
-Hama tanaman pangan dan industri.Contohnya wereng coklat dan kumbang tanduk.

Anonim mengatakan...

Nama : Marhamah
NIm : 70200106011
Kelp : 3

Aslm...
1. Penyemprotan disinfektan merupakan upaya awal untuk mencecah dan menghambat berkembangnya virus flu burung. Pertanyaan saya apakah ada upaya selanjutnya setelah penyemprotan disinfektan kalau ada tolong sebutkan upaya-upaya tersebut?????
2. Sebutkan jenis vektor yang paling berbahaya atau menimbulkan penyakit di wilayah pantai/pesisir???

Anonim mengatakan...

minta maafka untuK saudari Ria karena saya tidak membaca komentar-komentar sebelumnya.

Dan untuk penyaji saya juga minta maaf karena komentar yang diatas saya ganti.

dalam makalah anda membahas mengenai Kerusakan fisik habitat wilayah pesisir dan lautan telah mengakibatkan penurunan kualitas ekosistem. Hal ini terjadi pada ekosistem mangrove, terumbu karang, dan rumput laut atau padang lamun. Kebanyakan rusaknya habitat di daerah pesisir adalah akibat aktivitas manusia seperti konversi hutan mangrove untuk kepentingan pemukiman, pembangunan infrastruktur, dan perikanan tambak.
yang ingin saya tanyakan:
apakah dengan cara kerusakan fisik habitat wilayah pesisir dan lautan di atas dapat mengurangi vektor yang ada di pesisir pantai???????dan
jelaskan faktor-faktor yang menyebabkan perkembang biakan vektor di daerah pesisir pantai terutama dihutan mangrove???????

ASMAWATI/70200106028

Terima kasih....^_^

Anonim mengatakan...

nama : maqbul syarief
nim : 70200106035
klp : iv
Pesisir merupakan wilayah yang sangat berarti bagi kehidupan manusia di bumi. Sebagai wilayah peralihan darat dan laut yang memiliki keunikan ekosistem, dunia memiliki kepedulian terhadap wilayah ini, khususnya di bidang lingkungan dalam konteks pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Kawasan pesisir juga dipahami sebagai Kawasan tempat bertemunya berbagai kepentingan, baik Masyarakat, Pemerintah Kabupaten, dan Investor dalam rangka memanfaatkan potensi kawasan pesisir. Kawasan Pesisir adalah kawasan yang sangat kaya akan sumber daya alam dan sangat potensial sebagai modal dasar pembangaunan nasional
nah pertanyaan saya...bagaimana cara pemerintah setempat untuk melakukan pemberdayaan masyarakat terhadap bahaya penyakit yg di sebabkan oleh vektor trsebut???????

Anonim mengatakan...

NAMA :ANWAR MBOLOSI
NIM : 70200106027

kita tau kawasan pesisir kebanyakan dijadikan sebagai kawasan pelabuhan, dan tempat bongkar muat barang, dari sini akan bermunculan sumber-sumber penyakit yang di bawa dari daerah lain, yang saya tanyakan adalah apakah sejauh ini sudah maksimal usaha yang dilakukan pemerintah untuk mencegah hal ini?

Anonim mengatakan...

Terima kasih atas pertanyan dari saudara risno.

1.Pada dasarnya memang ada hubungan antara kerusakan hutan mangrove dengan perkembangan vektor di pesisir. Karena Jika hutan mangrove hilang akan menyebabkan abrasi pantai, dapat mengakibatkan intrusi air laut lebih jauh ke daratan, dapat mengakibatkan banjir, perikanan laut menurun, sumber mata pencaharian penduduk setempat berkurang.
Hilangnya hutan mangrove seperti yang telah di cantumkan diatas, salah satunya dapat mengakibatkan banjir. Sehingga jika ini di kaitkan dengan lingkungan otomatis banjir/ pasca banjir begitu banyak muncul penyakit berbasis lingkungan termasuk BDD, malaria yang di akibatkan ohle vektor pembawa penyakit yaitu nyamuk.
2.Menurut saya apupun yang berlebihan itu tidak baik, termasuk eksploitasi sumber daya jika berlebihan. Eksploitasi sumberdaya alam secara besar-besaran tanpa mempertimbangkan kelestarian dan kesinambungannya, berdampak pada menurunnya kualitas lingkungan hidup.

syukran………..

Anonim mengatakan...

Andi Haerani/ 70200106072

Alaikum salam warahmatullah…….,
Terima kasih atas pertanyan dari saudara risno.

1.Pada dasarnya memang ada hubungan antara kerusakan hutan mangrove dengan perkembangan vektor di pesisir. Karena Jika hutan mangrove hilang akan menyebabkan abrasi pantai, dapat mengakibatkan intrusi air laut lebih jauh ke daratan, dapat mengakibatkan banjir, perikanan laut menurun, sumber mata pencaharian penduduk setempat berkurang.
Hilangnya hutan mangrove seperti yang telah di cantumkan diatas, salah satunya dapat mengakibatkan banjir. Sehingga jika ini di kaitkan dengan lingkungan otomatis banjir/ pasca banjir begitu banyak muncul penyakit berbasis lingkungan termasuk BDD, malaria yang di akibatkan ohle vektor pembawa penyakit yaitu nyamuk.
2.Menurut saya apupun yang berlebihan itu tidak baik, termasuk eksploitasi sumber daya jika berlebihan. Eksploitasi sumberdaya alam secara besar-besaran tanpa mempertimbangkan kelestarian dan kesinambungannya, berdampak pada menurunnya kualitas lingkungan hidup.

syukran………..

Anonim mengatakan...

Imran/ 70200106076
Terima kasih atas pertanyan dari saudara anwar.

Menurut saya, daerah pesisir khususnya daerah pelabuhan memang merupakan salah satu pintu masuknya vektor. Karena itu ada yang namanya Kantor Kasehatan Pelabuhan (KKP) harus mampu melakukan tindakan disinseksi (untuk mencegah vektor).
Pengendalian vektor bukan hanya merupakan tugas dari pemerintah, tapi dengan melibatkan pihak swasta yang terkait justru akan lebih maksimal.
Mitra yang Terkait dengan Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP)
Kantor Administrasi Pelabuhan (ADPEL), PT. PELINDO (pihak swasta/Badan Usaha Swasta) dengan peran masing-masing Mitra. KKP : Pengawas pelaksanaan disinseksi, Kantor ADPEL : Mengetahui semua program dan kegiatan KKP di Pelabuhan, karena bertugas sebagai administrator pelabuhan (pengelola), PT. PELINDO : Pelaksana disinseksi, dengan menunjuk supervisor (petugas pelaksana disinseksi yang telah mempunyai sertifikat sebagai supervisor dan pelaksana disinseksi dari Ditjen PP&PL.

Anonim mengatakan...

Muharti Syamsul (70200106085)

trims atas pertanyaan saudara anwar, menurut saya sejauh ini pemeintah sudah sangat perduli akan hal ini. ini di buktikan dari peraturan2 yang ada seperti :
1.Undang – Undang nomor 1 tahun 1962 tentang Karantina Laut (Lembaran Negara Tahun 1962 Nomor : 2, Tambahan Lembaran Negara Nomor : 2373)
2. Undang – undang nomor 2 tahun 1962 tentang Karantina Udara (Lembaran Negara Tahun 1962 Nomor : 3, Tambahan Lembaran Negara Nomor : 2374)
3. Undang – Undang nomor 4 tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular (Lembaran Negara Tahun 1984 Nomor : 20, Tambahan Lembaran Negara Nomor : 3273)
4. Undang – Undang nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor. 100, Tambahan Lembaran Tahun 1992 Nomor : 3495)
5. PP No. 40 Tahun 1991 Tentang Penanggulangan Wabah Penyakit Menular.
6. Keputusan Menteri Kesehatan RI, Peraturan Menteri Kesehatan RI, Keputusan dan surat Edaran Direktur Jenderal yang berkaitan dengan upaya pemberantasan penyakit menular.

akan tetapi dengan kenyataan yg kita liat skrang bahwa msh ada sj penyakit dr luar yg msuk ke INA wlaupun PP telah dilaksanakan, hal ini bisa sj terjadi karena penyelenggaraan fungsi Kantor Kesehatan Pelabuhan tidak yang sistematis sehingga ada sj kecolongan penyakit.

trims,,,

Anonim mengatakan...

Muharti Syamsul (70200106085)

Trims atas pertanyaan saudara maqbul syarief

Menurut saya, bahwa di dalam masyarakat itu, tedapat kemitraan dalam wadah Pokjanal vektor (kelompok kerja operasional vektor), pemberdayaan masyarakat dalam gerakan pemberantasan vektor dan peningkatan profesionalisme pelaksana program.Sya kira smpiel saja bahwa langkah yang perlu dilakukan adalah biasakan kita untuk menjaga keadaan sanitasi lingkungan sekitar tempat tinggal agar tetap bersih dan sehat. Sebab, inilah sesungguhnya kunci dari segala kunci dalam pengendalian vektor. Kepala Bagian Pengendalian Penyakit Menular (P2M) drg. Sri Rupiati, mengatakan Community Behaviour Impact (Combi) merupakan perubahan yang paling mendasar pada perilaku masyarakat.

TRIMS,,,,

Anonim mengatakan...

Andi Haerani/ 70200106072
Makasi atas pertanyaan dari saudari mutmainnah
iya memang, ada undang-undang tentang pengeloloan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Tapi terkait masalah penjualan pulau, kasusnya dimana?
Di Indonesia pada 2007 lalu juga sempat heboh dengan dijualnya dua pulau yakni Pulau Panjang dan Meriam Besar yang dijual oleh Karangasem Property melalui situs www.karangasemproperty.com.
Pulau Panjang di Sumbawa, NTB tertulis seluas 33 hektar. Sedangkan Meriam Besar yang juga berada di Sumbawa, NTB tertulis seluas 5 hektar. Setelah ramai diberitakan, pemilik situs Karangasemproperty.com yang adalah warga Belanda meminta maaf dan meralat pulau yang diiklankan bukan dijual tapi dibuka untuk penanaman investasi.
"UU memperbolehkan untuk hak sewa, itu kewenangan daerah.
Jika yang anda maksudkan Tiga pulau yakni Siloinak, Karambejat, Kandui di kawasan kepulauan Mentawai sebagai pulau yang diperjualbelikan. Ternyata beberapa area di kawasan tersebut disewakan oleh masyarakat adat. Menurut pemerintah pusat tidak masalah selama tata ruang dan aturan perizinan dipenuhi.

Tapi jika memang ada pulau yang terjual, itu harus di tindak lanjuti oleh pemerintah, mengusut kasus ini sampai akar-akarnya agar tindakan ini tidak terulang lagi. Karena itu pemerintah harus bersifat tegas dalam penegakan aturan. Karena tidak bias dipungkiri Negara kita memang Negara hokum tapi system penegakan hokum itu sendiri masih lemah.
Syukran…………..

Anonim mengatakan...

Andi Haerani/ 70200106072
makasi atas pertanyaan dari saudari amriati,

1. Sejauh dari pengamatan dan artikel yang saya baca, vektor yang paling mendominasi di daerah pesisir adalah nyamuk dan lalat. Ini terkait dengan makalah-makalah yang disajikan teman-teman sebelumnya dimana system pengolahan sampahnya yang masih kurang, penyediaan air bersih, konsep sanitasi yang ideal yang belum sepenuhnya di terapkan di wilayah masyarakat pesisir. Nah dari itu vektor nyamuk dan lalat sangat terkait dengan penyakit berbasis lingkungan. Apalagi bila telah terjadi banjir, semakin banyak peluang kedua vektor ini berkembang khususnya nyamuk.
2. peran pemerintah dalam hal ini tergantung dari masing-masing daerah pesisir itu sendiri, misalnya di Kabupaten Simeulue, seperti contoh kasus yang ada pada makalah. Saya kira setelah di baca contoh kasusnya disitu sudah jelas peran pemerintahnya.
Syukran..........

Anonim mengatakan...

Andi HAerani/ 70200106072
Sedikit saya tambahkan jawaban untuk saudara maqbul syarif,
Tentang bagaimana enpowermen (pemberdayaan masyarakat) di wilayah pesisir terkait dengan pengendaliaan vektor, ini sudah bias terlihat dengan adanya program 3M+. Adanya program ini saya rasa cukup meperdayakan masyarakat.
Syukran..........,

Anonim mengatakan...

Nama: Dinda Febriantika.B
Nim: 7020106031

1)Begini,dalam makalah anda,anda menuliskan
“Ada beberapa jenis vektor dilihat dari cara kerjanya sebagai penular penyakit. Keberadaan vektor ini sangat penting karena kalau tidak ada vektor maka penyakit tersebut juga tidak akan menyebar”. Yang ingin saya tanyakan mengapa anda bisa mengatakan keberadaan vektor ini sangat penting?atau apa maksud dari argument anda ini? Kitakan juga sama-sama mengetahui kalau vektor itu pembawa penyakit yang bisa menular. Ya bagus donk kalau vektor itu tidak ada.
2)saya rasa kalau pengendalian vektor itu dengan menggunakan insektisida apa lagi sekarang-sekarang ini sangat jauh dari fungsi yang sebenarnya. Disini anda mengatakan bahwa dengan menggunakan insektisida dapat membunuh serangga, tapi faktanya apa serangga masih tetap ada,bahkan mungkin semakin kebal. Bagaimana menurut anda..?
terimah kasih

Anonim mengatakan...

Andi Haerani/ 70200106072
maksi atas pertanyaan dari saudari dinda,
1.Maksudnya penting disini, karena kl tidak ada vektor maka penyakit ini akan menyebar.dan saya kira pernyataan di atas juga masih ada sambungannya (belum titik) Saya kira seperti itu.
2.Tidak seperti itu dinda, pengendalian vektor dengan menggunakan insektisida juga perlu tapi memang itu merupakan alternative terakhir. Adanya serangga yang kebal kan itu di sebabkan karena penggunaan insektisida tidak sesuai dengan aturan. Dan untuk memperbaiki itu masih belum terlambat.

Anonim mengatakan...

Muharti Syamsul (70200106085)

trims untk pertanyaan dari saudari Asmawati

Sebagaimana yg kita ketahui bahwa hutan juga dapat membantu dalam perubahan udara, sehingga pada saat terjadi kerusakan pada hutan mangrove sinar tampak adalah gelombang pendek, setelah dipantulkan kembali berubah menjadi gelombang panjang yang berupa energi panas (sinar inframerah), yang kita rasakan. Namun sebagian dari energi panas tersebut tidak dapat menembus kembali atau lolos keluar ke angkasa, karena lapisan gas-gas atmosfer sudah terganggu komposisinya (komposisinya berlebihan)karena kerusakan hutan yang terjadi. Akibatnya energi panas yang seharusnya lepas keangkasa (stratosfer) menjadi terpancar kembali ke permukaan bumi (troposfer) atau adanya energi panas tambahan kembali lagi ke bumi dalam kurun waktu yang cukup lama, sehingga lebih dari dari kondisi normal, hal ini dapat berpengaruh terhadap penurunan vektor karena vektor itu jg dapat hidup dan bertahan pada kondisi dan suasana udara tertentu sehingga jika terjadi perubahan suhu bumi yg diakibatkan krn rusaknya hutan khususnya mangrove maka kemungkinannya akan terjadi penurunan atw bertambahnya vektor.

Kemudian pertanyaan yg kedua, ada beberapa yg mempengaruhi yaitu
Lingkungan fisik, terdiri dari suhu, kelembaban, hujan, ketinggian, angin, sinar matahari, arus air dan kadar garam.

Suhu mempengaruhi perkembangan parasit dalam nyamuk. Suhu yang optimun berkisar antara 20 dan 30ºC. Makin tinggi suhu makin pendek masa inkubasi ekstrinsik (sporogoni) dan sebaliknya makin rendah suhu makin panjang masa inkubasi ekstrinsik.

Kelembaban yang rendah, meskipun tidak berpengaruh pada parasit. Tingkat kelembaban 60% merupakan batas paling rendah untuk memungkinkan berpengaruh pada perubahan vektor, pada kelembaban lebih tinggi menyebabkan aktifitas vektormenjadi lebih, sehingga meningkatkan penyakit.

Kecepatan dan arah angin dapat mempengaruhi vektor dan ikut menentukan jumlah kontak antara manusia. Disamping arah angin sinar matahari juga mempengaruhi pertumbuhan vektor serta arus air yang deras

2) Lingkungan biologik, tumbuhan bakau, lumut, ganggang dan berbagai tumbuhan lain dapat mempengaruhi kehidupan vektor karena dapat menghalangi sinar matahari atau melindungi dari serangan mahluk hidup lainnya, serta adanya tambak ikan juga akan mempengaruhi populasi vektor.

trims...

Anonim mengatakan...

Muharti Syamsul (70200106085)

Untuk jawaban dari pertanyaan Marhamah..

ada beberapa cara yaitu prinsip dasar yang diterapkan dalam pencegahan, pengendalian, dan pemberantasan Avian influenza atau flu burung ini, adalah:

* Mencegah kontak antara hewan peka dengan virus AI
* Menghentikan produksi virus AI oleh unggas tertular (menghilangkan virus AI dengan dekontaminasi/disinfeksi)
* Meningkatkan resistensi (pengebalan) dengan vaksinasi
* Menghilangkan sumber penularan virus, dan
* Peningkatan kesadaran masyarakat (public awareness)

Dalam pelaksanaannya, dapat dilakukan melalui 9 tindakan yang merupakan satu kesatuan satu sama lainnya yang tidak dapat dipisahkan, yaitu:

1. Peningkatan biosekuriti
2. Vaksinasi
3. Depopulasi (pemusnahan terbatas atau selektif) di daerah tertular
4. Pengendalian lalu lintas keluar masuk unggas
5. Surveillans dan penelusuran (tracking back)
6. Pengisian kandang kembali (restocking)
7. Stamping out (pemusnahan menyeluruh) di daerah tertular baru
8. Peningkatan kesadaran masyarakat (public awareness)
9. Monitoring dan evaluasi

Pertanyaan ke dua, sy kira semua vektor itu berbahaya. nd ada vektor dan penyakit yg tdk berbahaya apalg jika tdk ada penanganan lbih lanjut

Trims,,,,

Anonim mengatakan...

Andi Haerani/ 70200106072
makasi atas pertanyaan dari saudari risna,
1. Manusia dan lingkungan memang tidak bisa dipisahkan, karena pada dasarnya manusia beraktifitas di lingkungan, begitu juga dengan vektor. Aktivitas atau kegiatan manusia sangat mempengaruhi hal ini. Misalnya masyarakat petani, dengan penggunaan insektisida, akan mempengaruhi vektor yang ada. Serangga akan resisten jika penggunaan insektisida berlebihan dan tidak sesuai dengan yang di anjurkan.
2. Secara khusus dalam penanganan vektor di daerah pesisir, saya juga belum tau aturannya seperti apa. Atau ada atau tidak. Tapi saya kira adanya acuan dari undang-undang no.23 tahun 1992 tentang kesehatan dan adanya peraturan menteri kesehatan tentang hygiene sanitasi lingkungan bisa menjadi acuan dalam pengendalian vektor termasuk wilayah daerah pesisir demi terciptanya masyarakat yang sehat dan lingkungan yang bersih
syukran..........,

Anonim mengatakan...

kelompok V

makasi ya teman2 KL UIN '06.....,
^-^

Anonim mengatakan...

Rahmatullah/ 7020106040
ijabah tuk saudari Risnawati anwas
1.mengapa bionomik vektor mengikuti perkembangan kegiatan manusia karena kegiatan manusia bisa menjadi wadah yang dapat menjadi pemicu perkembangan vektor itu sendiri, misalnya adanya tambak2 di daerah pesisir sebagai salahsatu tempat berkembangnya nyamuk DBD atau malaria, sawah yang juga merupakan t4 b'kembangnya vektor salah satunya adalah tikus, tumpukan sampah dari hasil kegiatan manusia yang jg sebagai wadah perkembangan vektor lalat, tikus dan kecoa.. itu semua bisa terjadi karena manusia kurang memperhatikan dampak dr kegiatannya..
2.kekuatan hukum vektor kawasan pesisir :
1.Undang – Undang nomor 1 tahun 1962 tentang Karantina Laut (Lembaran Negara Tahun 1962 Nomor : 2, Tambahan Lembaran Negara Nomor : 2373)
2. Undang – undang nomor 2 tahun 1962 tentang Karantina Udara (Lembaran Negara Tahun 1962 Nomor : 3, Tambahan Lembaran Negara Nomor : 2374)
3. Undang – Undang nomor 4 tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular (Lembaran Negara Tahun 1984 Nomor : 20, Tambahan Lembaran Negara Nomor : 3273)
4. Undang – Undang nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor. 100, Tambahan Lembaran Tahun 1992 Nomor : 3495)
5. PP No. 40 Tahun 1991 Tentang Penanggulangan Wabah Penyakit Menular.
6. Keputusan Menteri Kesehatan RI, Peraturan Menteri Kesehatan RI, Keputusan dan surat Edaran Direktur Jenderal yang berkaitan dengan upaya pemberantasan penyakit menular.
thank

Anonim mengatakan...

rahmatullah/70200106040
untuk saudari masjuniarti..
Untuk penyakit yang ditularkan oleh arthropoda seperti malaria, demam kuning, masa penularannya atau masa infektivitasnya adalah pada saat bibit penyakit ada dalam jumlah cukup dalam tubuh manusia baik itu dalam darah maupun jaringan tubuh lainnya dari orang yang terinfeksi sehingga memungkinkan vector terinfeksi dan menularkannya kepada orang lain.
Masa penularan untuk vector arthropoda yaitu pada saat bibit penyakit dapat disemikan dalam jaringan tubuh arthropoda dalam bentuk tertentu dalam jaringan tertentu (stadium infektif) sehingga dapat ditularkan.
contohnya:
-Vektor perantara penyakit bagi manusia.Misalnya nyamuk malaria, nyamuk demam berdarah, lalat tsetse sebagai vektor penyakit tidur, dan lalat rumah sebagai vektor penyakit tifus.
-Menimbulkan gangguan pada manusia.Misalnya caplak penyebab kudis, kutu kepala, dan kutu busuk
-Hama tanaman pangan dan industri.Contohnya wereng coklat dan kumbang tanduk.

Anonim mengatakan...

Rahmatullah/70200106040
ijabah buat sodari Ummul waqiah
1' menurut saya efek dari penggunaan kelambu sampai saat ini belum ada ditemukan,justru kelambu merukapakan cara teraman untuk mencegah gigitan nyamuk..dibanding dengan penggunaan obat nyamuk bakar, oles atau semprot.. karena ke 3 bahan tersebut mengandung zat kimia yg bisa berdampak terhadap pernafasan dan kulit. Selain itu penggunaan yg tdk sesuai dgn dosis dpat menyebabkan nyamuk menjadi resisten...
2' untuk mencegah penyebaran DBD salahsatunya adalah memutus tali rantai perkembangbiakannya, dengan cara 3 M..dan selalu menjaga kebersihan rumah dan lingkungan sekitar..

Anonim mengatakan...

5. PP No. 40 Tahun 1991 Tentang Penanggulangan Wabah Penyakit Menular.
6. Keputusan Menteri Kesehatan RI, Peraturan Menteri Kesehatan RI, Keputusan dan surat Edaran Direktur Jenderal yang berkaitan dengan upaya pemberantasan penyakit menular.