Senin, 30 November 2009

Kelompok II; Sistem Pengelolaan Sampah Padat di Wilayah Pantai dan Pesisir

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kawasan pesisir dikenal sebagai ekosistem perairan yang memiliki potensi sumberdaya yang sangat besar. Wilayah tersebut telah banyak dimanfaatkan dan memberikan sumbangan yang berarti, baik bagi peningkatan taraf hidup masyarakat maupun sebagai penghasil devisa negara yang sangat penting.

Aktifitas perkonomian yang dilakukan di kawasan pesisir diantaranya adalah kegiatan perikanan (tangkap dan budidaya), industri dan pariwisata. Selain dimanfaatkan untuk kegiatan perekonomian, wilayah pesisir juga digunakan sebagai tempat membuang limbah dari berbagai aktifitas manusia, baik dari darat maupun di kawasan pesisir itu sendiri. Kegiatan ini memberikan dampak yang tidak diharapkan dari kondisi biofisik pesisir yang dikenal sangat peka terhadap perubahan lingkungan. Salah satu jenis perairan yang akan terkena dampak adalah perairan estuaria.

Estuaria merupakan suatu habitat yang bersifat unik karena merupakan tempat pertemuan antara perairan laut dan perairan darat. Namun wilayah pesisir juga kerap mendapat tekanan ekologis berupa pencemar yang bersumber dari aktifitas manusia. Melimpahnya bahan pencemar tersebut di wilayah pesisir merupakan ancaman yang serius terhadap kelestarian perikanan laut. Menurut Dahuri (1996) akumulasi limbah yang terjadi di wilayah pesisir, terutamadiakibatkan oleh tingginya kepadatan populasi penduduk dan aktifitas industri.

Kondisi seperti ini disinyalir juga terjadi di perairan muara Sungai Kampar. Muara Sungai Kampar merupakan gabungan dari beberapa aliran sungai besar dan anak sungai yang terdapat di Provinsi Riau. Aliran air yang masuk ke muara Sungai Kampar mengindikasikan banyak mengandung bahan pencemar. Hal ini terjadi karena di sepanjang sungai yang mengalir ke muara Sungai Kampar terdapat banyak pabrik-pabrik atau kegiatan industri yang beroperasi dan membuang limbahnya ke sungai. Pabrik yang paling besar masuk ke aliran adalah jenis pabrik kertas yaitu PT. RAPP (Riau Andalan Pulp andPaper).

Masuknya bahan pencemar ke dalam perairan muara sungai ini akan mengakibatkan terjadinya kerusakan pada berbagai organ tubuh, bahkan bukan tidak mungkin dapat mengakibatkan kematian serta mengakibatkan spesies tertentu yang rentan terhadap bahan pencemar menjadi hilang/punah sehingga spesies ikan yang dijumpai menjadi berkurang. Hal ini sesuai dengan pendapat Dahuri dan Arumsyah (1994) bahwa masuknya bahan pencemar ke dalam perairan dapat mempengaruhi kualitas perairan. Apabila bahan yang masuk ke perairan melebihi kapasitas asimilasinya, maka daya dukung lingkungan akan menurun. Sehingga menurun pula nilai perairan dan peruntukan lainnya.

Bahan pencemar yang masuk ke muara sungai dan estuari akan tersebar dan akan mengalami proses pengendapan, sehingga terjadi penyebaran zat pencemar. Besar kecilnya nilai kisaran dari parameter terukur tergantung dari volume air pengencer, toksisitas/intensitas bahan pencemar, iklim, kedalaman, arus, topografi dan geografi, sehingga terjadi perubahan sifat fisik, kimia dan biologi dan ketiganya akan saling berinteraksi. Apabila salah satu factor terganggu atau mengalami perubahan akan berdampak pada ekologi perairan. Penyebaran bahan pencemar terutama logam berat dalam perairan dengan proses pengendapan akan mempengaruhi siklus hidup dari hewan perairan terutama ikan.

Dengan terjadinya proses pengendapan bahan pencemar di dasar perairan akan memberikan dampak terakumulasinya bahan pencemar dalam tubuh organisme melalui rantai makanan. Ikan baung salah satu jenis ikan yang hidup di dasar perairan Sungai Kampar dan banyak dikonsumsi oleh masyarakat setempat,padahal ikan baung baik secara langsung maupun tidak langsung, terkena dampak dari bahan pencemar yang berada di dasar perairan atau dengan kata lain akan terkontaminasi bahan pencemar. Mengingat ikan baung banyak hidup di dasarperairan Sungai Kampar yang sudah tercemar, namun masih belum ada informasi mengenai hal tersebut, maka perlu dilakukan penelitian terhadap kandungan bahan pencemar terutama logam pada ikan baung.

B. Tujuan

Ada pun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah:

1. Untuk mengetahuai pengertian sampah, pengelolaan sampah dan kawasan pesisir.

2. Untuk mengetahui bagaimana pembagian sampah padat

3. Untuk mengetahui bagaimana konsep pengelolaan sampah

4. Untuk mengetahui bagaimana pengolahan Sampah secara umum dan pengolahan sampah di kawasan pesisir.

5. Unuk mengetahui pengolahan sampah dan dampaknya bagi masyarakat dan lingkungan.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Sampah, Pengelolaan Sampah dan Kawasan Pesisir

Kata sampah sudah merupakan hal yang lumrah, mendengar kata sampah sudah terbesit dalam pikiran kita bahwa sampah itu merupakan sesuatu yang sudah tidak digunakan lagi dan ingin dibuang. Namun menurut WHO, defenisi sampah adalah sesuatu yang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak disenangi, atau sesuatu yang dibuang yang berasal dari kegiatan manusia dan tidak terjadi dengan sendirinya.

Seperti yang telah diketahui secara umum,bahwa sampah dapat membawa dampak yang buruk pada kondisi kesehatan manusia. Bila sampah dibuang secara sembarangan atau ditumpuk tanpa ada pengelolaan yang baik, maka akan menimbulkan berbagai dampak kesehatan yang serius.

Pengelolaan sampah adalah pengumpulan , pengangkutan , pemrosesas, pendaur-ulangan, atau pembuangan dari material sampah. Kalimat ini biasanya mengacu pada material sampah yg dihasilkan dari kegiatan manusia, dan biasanya dikelola untuk mengurangi dampaknya terhadap kesehatan, lingkungan atau keindahan. Pengelolaan sampah juga dilakukan untuk memulihkan sumber daya alam . Pengelolaan sampah bisa melibatkan zat padat , cair , gas , atau radioaktif dengan metoda dan keahl ian khusus untuk masing masing jenis zat.

Definisi kawasan pesisir dari pendekatan ekologis adalah daerah pertemuan darat dan laut, dengan batas ke arah darat meliputi bagian daratan, baik kering maupun terendam air yang masih mendapat pengaruh sifat laut seperti angin laut, pasang surut dan intrusi air laut; sedangkan batas ke arah laut mencakup bagian perairan pantai sampai batas terluar dari paparan benua yang masih dipengaruhi oleh proses alamiah yang terjadi di darat seperti sedimentasi dan aliran air tawar serta proses yang disebabkan oleh kegiatan manusia, misalnya penggundulan hutan, pencemaran industri/domestik, limbah tambak, atau penangkapan ikan. Jika dilihat dari pendekatan administrasi, kawasan pesisir adalah kawasan yang secara administrasi pemerintahan mempunyai batas terluar sebelah hulu dari kecamatan atau kabupaten atau kota dan ke arah laut sejauh 12 mil dari garis pantai untuk propinsi atau sepertiganya untuk kabupaten atau kota.

Praktek pengelolaan sampah berbeda beda antara Negara maju dan negara berkembang , berbeda juga antara daerah perkotaan dengan daerah pedesaan , berbeda juga antara daerah perumahan dengan daerah industri. Pengelolaan sampah yg tidak berbahaya dari pemukiman dan institusi di area metropolitan biasanya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah, sedangkan untuk sampah dari area komersial dan industri biasanya ditangani oleh perusahaan pengolah sampah.

B. Pembagian Sampah Padat

Sampah padat dapat dibagi menjadi beberapa kategori, seperti berikut:

1. Berdasarkan zat kimia yang terkandung di dalamnya,

* Organik, misalnya, sisa makanan.

* Anorganik, misalnya, logam, pecah-belah, abu dan lain-lain.

2. Berdasarkan dapat atau tidaknya dibakar

* Mudah tertbakar, misalnya: Kertas pelastik, daun kering, kayu.

* Tidak mudah terbakar, misalnya kaleng, besi, gelas dan lain-lain.

3. Berdasarkan dapat atau tidaknya membusuk

* Mudah membusuk misalnya, makanan, potongan daging, dan sebagainya.

* Sulit membusuk, misalnya, plastic, kaleng, karet dan sebagainya.

4. Berdasarkan ciri atau karakteristik sampah

* Garbage, terdiri dari zat-zat yang mudah membusuk dan dapat terurai dengan cepat, khususnya jika cuaca panas. Proses pembusukan sering kali menimbulkan bau busuk. Sampah jenis ini dapat ditemukan di tempat pemukiman, rumah makan, rumah sakit, pasar dan sebagainya.

* Rubbish, terbagi menjadi dua

- Rubbish mudah terbakar terdiri atas zat-zat organic, misalnya kertas, kayu, karet, daun kering dan sebagainya.

* Ashes, semua sisa pembakaran dari industry

* Street sweeping, sampah dari jalan atau trotoar akibat aktifitas mesin atau manusia.

* Dead animal, bangkai binatan besar(anjing, kucing dan sebagainya yang mati akibat kecelakaan).

* House hold refuse, atau sampah campuran (misalnya garbage, ashes, rubbish) yang berasal dari perumahan.

* Abandoned vehicle, berasal dari bangkai kendaraan.

* Demolision waste, berasal dari sisa pembangunan gedung.

* Kontructions waste, berasal dari sisa-sisa pembangunan gedung seperti tanah, batu dan kayu.

* Sampah industry, berasal dari pertanian, perkebunan dan industry.

* Santage solid, terdiri atas benda-benda solid atau kasar yang biasanya berupa zat organic pada pintu masuk pusat pengolahan limbah cair.

* Sampah khusus, atau sampah yang memerlukan penanganan khusus seperti kaleng dan zat radioaktif.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Jumlah Sampah:

1. Jumlah Penduduk

Jumlah penduduk bergabtung pada aktivitas dan kepadatan penduduk. Smakin padat penduduk, sampah semakin menumpuk Karena tempat atau ruang untuk menampung sampah kurang. Semakin meningkat aktivitas penduduk,sampah yang dihasilkan semakin banyak, misalnya pada aktivitas pembangunan, perdagangan, industri, dan sebaginya.

2. Sistem pengumpulan atau pembuangan sampah yang dipakai.

Pengumpulan sampah dengan menggunakan gerobak lebih lambat jika dibandingkan dengan truk.

3. Pengambilan bahan-bahan yang ada pada sampah untuk dipakai kembali.

Metode ini dilakukan karena bahan tersebut masih memiliki nilai ekonomi bagi golongan tertentu. Frekuensi pengambilan dipengaruhi oleh keadaan , jika harganya tinggi, sampah yang tertinggal sedikit.

4. Factor geografis.

Lokasi tempat pembuangan apakah di daerah pegunungan, lembah pantai, atau di daratan rendah.

5. Faktor waktu.

Bergabtung pada factor harian, mingguan, bulanan, atau tahuna. Jumlah sampah per hari bervariasi menurut waktu. Contoh, jumlah sampah pada siang hari lebih banyak dari pada jumlah di pagi hari, sedangkan sampah di daerah pedesaan tidak begitu bergabtung pada factor waktu.

6. Faktor social ekonomi dan budaya

Contoh, adat-istiadat dan taraf hidup dan mental masyarakat.

7. Pada musim hujan, sampah mungkin akan tersangkut pada selokan,pintu, air, atau pennyaringan air limbah.

8. Kebiasaan masyarakat

Contohnya jika seseorang suka mengkonsumsi satu jenis makanan atau tanaman, sampah makanan itu akan meningkat.

9. Kemajuan teknologi.

Akibat kemajuan teknologi, jumlah sampah dapat meningkat. Contoh, plastik, kardus, rongsokan, AC, TV dan sebagainya.

10. Jenis sampah.

Makin maju tingakt kebudayaan suatu masyarakat, semakin kimpeks pula jenis sampahnya.

Sumber Sampah

Sampah yang ada di permukaan bumi ini dapat berasal dari beberapa sumber berikut:

1. Pemukiman penduduk

Sampah di suatu pemukiman biasanya dihasilkan oleh satu atau beberapa keluarga yang tinggal dalam suatu daerah. Jenis sampah yang dihasilkan biasanya sisa makanan dan bahan sisa proses pengolahan makanan

2. Tempat umu dan tempat perdagangan

Tempat umum adlah tempat yang memungkinkan banyak orang berkumpul dan melakukan kegiatan termasuk juga tempat perdagangan. Jenis sampah yang diahasilkan dapat berupa sisa-sisa makanan, sampah kering, abu, sampah khusus dan terkadang sampah berbahaya.

3. Saran layanan masyarakat milik pemerintah

Saran layanan yang dimaksud antara lain tempat hiburan dan umum, jalanan umum, tempat parker, tempat layanan kesehatan, pantai tempat berlibur, dan saran apemerintahan yang lain. Tempat tersebut biasanya menghasilkan sampah khususu dan sampah kering.

4. Industry berat dan ringan

Dalam pengertian ini termasuk industry makanan dan minumana, industry kayu, industry kimia, industry logam, tempat pengolahahn air botol dan air minum, dan kegitan industry lainnya. Sampah yang dihasilkan dari tempat ini biasanya sampah basah, samapah kering, dan sampah berbahaya lainnya.

5. Pertanian

Sampah dihasilkan dari tanaman atau binatang. Lokasi pertanian seperti kebun, ladang, ataupun sawah yang mengasilkan sampah berupa bahan-bahan makanan yang telah membusuk, sampah pertanian, pupuk, maupun bahan pembasmi serangga tanaman.

C. Konsep pengelolaan sampah

Terdapat beberapa konsep tentang pengelolaan sampah yang berbeda dalam penggunaannya, antara negara-negara atau daerah. Beberapa yang paling umum, banyak-konsep yang digunakan adalah:

Diagram dari hirarki limbah.

  • Hirarki Sampah - hirarki limbah merujuk kepada " 3 M " mengurangi sampah, menggunakan kembali sampah dan daur ulang, yang mengklasifikasikan strategi pengelolaan sampah sesuai dengan keinginan dari segi minimalisasi sampah. Hirarki limbah yang tetap menjadi dasar dari sebagian besar strategi minimalisasi sampah. Tujuan limbah hirarki adalah untuk mengambil keuntungan maksimum dari produk-produk praktis dan untuk menghasilkan jumlah minimum limbah.
  • Perpanjangan tanggungjawab penghasil sampah / Extended Producer Responsibility (EPR).(EPR) adalah suatu strategi yang dirancang untuk mempromosikan integrasi semua biaya yang berkaitan dengan produk-produk mereka di seluruh siklus hidup (termasuk akhir-of-pembuangan biaya hidup) ke dalam pasar harga produk. Tanggung jawab produser diperpanjang dimaksudkan untuk menentukan akuntabilitas atas seluruh Lifecycle produk dan kemasan diperkenalkan ke pasar. Ini berarti perusahaan yang manufaktur, impor dan / atau menjual produk diminta untuk bertanggung jawab atas produk mereka berguna setelah kehidupan serta selama manufaktur.
  • prinsip pengotor membayar - prinsip pengotor membayar adalah prinsip di mana pihak pencemar membayar dampak akibatnya ke lingkungan. Sehubungan dengan pengelolaan limbah, ini umumnya merujuk kepada penghasil sampah untuk membayar sesuai dari pembuangan.

D. Pengolahan Sampah

Pengelolaan sampah merupakan proses yang diperlukan dengan tujuan untuk mengubah sampah menjadi material yang memiliki nilai ekonomis sehingga mempunyai nilai faedah yang lebih tinggi agar menjadi material yang tidak membahayakan bagi lingkungan hidup. Secara umum, ada beberapa metode dan tahapan di dalam poengolahan sampah diantaranya:

1. Metode Penghindaran dan Pengurangan

Sebuah metode yang penting dari pengelolaan sampah adalah pencegahan zat sampah terbentuk , atau dikenal juga dengan "pengurangan sampah". Metode pencegahan termasuk penggunaan kembali barang bekas pakai , memperbaiki barang yang rusak , mendesain produk supaya bisa diisi ulang atau bisa digunakan kembali (seperti tas belanja katun menggantikan tas plastik ), mengajak konsumen untuk menghindari penggunaan barang sekali pakai (contohnya kertas tissue) ,dan mendesain produk yang menggunakan bahan yang lebih sedikit untuk fungsi yang sama (contoh, pengurangan bobot kaleng minuman).

2. Tahap Pengumpulan dan Penyimpanan

Metode pengumpulan sampah bervariasi dan berbeda-beda antar negara dan kawasan. Jasa pengumpulan sampah rumah tangga biasanya disediakan oleh pemerintah daerah atau perusahaan swasta. Pada beberapa negara berkembang, jasa pengumpulan sampah yang resmi tidak tersedia. Sampah yang berada di lokasi sumber ( kantor, rumah tangga, hotel dan sebagainya) di tempatkan dalam tempat penyimpanan sementara (tempat sampah). Sampah basah dan sampah kering sebaiknya dikumpulkan di tempat yang terpisah untuk memudahkan pemusnahan.

Adapun tempat penyimapan sementara yang digunakan harus memenuhi syarat berikut ini :

1. Konstruksi harus kuat dan tidak mudah bocor.

2. Memiliki tutp dan mudah dibuka tanpa mengotori tangan.

3. Ukuran sesuai sehingga mudah diangkut oleh satu orang

Dari tempat penyimpana ini, sampah dikumpulkan kemudian dimasukkan ke dalam dipo (rumah sampah) dipo ini berbentuk bak besar yang digunakan untuk menampung sampah rumah tangga. dan bagi pengumpulan samph yang menggunakan jasa pengumpulan resmi biasanya dikumpulkan dalam konteiner sampah dan diangkut secara berkala.

3. Tahap Pengangkutan

Dari tempat pengumpulan sampah, sampah diagkut ke tempat pembuangan akhir atau pemusnahan sampah denga menggunakan truk pengangkut sampahyang disediakan oleh dinas kebersihan kota.

Truk sampah pemuatan depan yang biasa ada di Amerika utara.

4. Penimbunan Darat

Pembuangan sampah pada penimbunan darat termasuk menguburnya untuk membuang sampah, metode ini adalah metode paling populer di dunia. Penimbunan ini biasanya dilakukan di tanah yg ditinggalkan , lubang bekas pertambangan , atau lubang lubang dalam. Sebuah situs penimbunan darat yg di desain dan di kelola dengan baik akan menjadi tempat penimbunan sampah yang hiegenis dan murah. Sedangkan penimbunan darat yg tidak dirancang dan tidak dikelola dengan baik akan menyebabkan berbagai masalah lingkungan , diantaranya angin berbau sampah , menarik berkumpulnya hama , dan adanya genangan air sampah. Efek samping lain dari sampah adalah gas methan dan karbon dioksida yang juga sangat berbahaya. (di bandung kandungan gas methan ini meledak dan melongsorkan gunung sampah).

Penimbunan darat sampah

Karakter desain dari penimbunan darat yang modern diantaranya adalah metode pengumpulan air sampah menggunakan bahan tanah liat atau pelapis plastik.Sampah biasanya dipadatkan untuk menambah kepadatan dan kestabilannya , dan ditutup untuk tidak menarik hama (biasanya tikus). Banyak penimbunan samapah mempunyai sistem pengekstrasi gas yang terpasang untuk mengambil gas yang terjadi. Gas yang terkumpul akan dialirkan keluar dari tempat penimbunan dan dibakar di menara pemabakar atau dibakar di mesin berbahan bakar gas untuk membangkitkan listrik.

Kendaraan pemadat sampah penimbunan darat.

5. Pemusnahan samapah

Pemusnahan sampah terbagi atas beberapa cara yaitu:

1. Pembakaran

Pabrik pembakaran di Vienna (Spittelau incineration plant).

Pembakaran adalah metode yang melibatkan pembakaran zat sampah. Pengkremasian dan pengelolaan sampah lain yg melibatkan temperatur tinggi baisa disebut "Perlakuan panas". kremasi merubah sampah menjadi panas, gas, uap dan abu.

Pengkremasian dilakukan oleh perorangan atau oleh industri dalam skala besar. Hal ini bsia dilakukan untuk sampah padat , cair maupun gas. Pengkremasian dikenal sebagai cara yang praktis untuk membuang beberapa jenis sampah berbahaya, contohnya sampah medis (sampah biologis). Pengkremasian adalah metode yang kontroversial karena menghasilkan polusi udara.

Pengkremasian biasa dilakukan dinegara seperti jepang dimana tanah begitu terbatas ,karena fasilitas ini tidak membutuhkan lahan seluas penimbunan darat.Sampah menjadi energi (Waste-to-energy=WtE) atau energi dari sampah (energy-from-waste = EfW) adalah terminologi untuk menjelaskan samapah yang dibakar dalam tungku dan boiler guna menghasilkan panas/uap/listrik.Pembakaran pada alat kremasi tidaklah selalu sempurna , ada keluhan adanya polusi mikro dari emisi gas yang keluar cerobongnya. Perhatian lebih diarahkan pada zat dioxin yang kemungkinan dihasilkan di dalam pembakaran dan mencemari lingkungan sekitar pembakaran. Dilain pihak , pengkremasian seperti ini dianggap positif karena menghasilkan listrik , contoh di Indonesia adalah rencana PLTSa Gede Bage di sekitar kota Bandung.

Manfaat system ini adalah volume sampah dapat diperkecil sampai sepertiganya, tidak memerlukan ruang yang luas, panas yang dihasilkan dapat dipakai sebagai sumber uap, dan pengolahan dapat dilakukan secara terpusat dengan jadwal jam kerja yang dapat diataur sesuai dengan kebutuhan.

Kerugian yang ditimbulakan akibat penerapan metode ini adalah membutuhkan biaya yang cukup besar, lokalisasi pembuangan pabrik sukar didapat karena keberatan penduduk.

2. Metode Daur-ulang

Proses pengambilan barang yang masih memiliki nilai dari sampah untuk digunakan kembali disebut sebagai daur ulang.Ada beberapa cara daur ulang , pertama adalah mengambil bahan sampahnya untuk diproses lagi atau mengambil kalori dari bahan yang bisa dibakar utnuk membangkitkan listik. Metode metode baru dari daur ulang terus ditemukan dan akan dijelaskan dibawah.

Pengolahan kemabali secara fisik

Baja di buang , dipilih dan digunakan kembali.

Metode ini adalah aktivitas paling populer dari daur ulang , yaitu mengumpulkan dan menggunakan kembali sampah yang dibuang , contohnya botol bekas pakai yang dikumpulkan kembali untuk digunakan kembali. Pengumpulan bisa dilakukan dari sampah yang sudah dipisahkan dari awal (kotak sampah/kendaraan sampah khusus), atau dari sampah yang sudah tercampur.

Sampah yang biasa dikumpulkan adalah kaleng minum aluminum , kaleng baja makanan/minuman, Botol HDPE dan PET , botol kaca , kertas karton, koran, majalah, dan kardus. Jenis plastik lain seperti (PVC, LDPE, PP, dan PS) juga bisa di daur ulang.Daur ulang dari produk yang komplek seperti komputer atau mobil lebih susah, karena harus bagian bagiannya harus diurai dan dikelompokan menurut jenis bahannya.

3. Pengolahan biologis

Pengkomposan.

Material sampah organik , seperti zat tanaman , sisa makanan atau kertas , bisa diolah dengan menggunakan proses biologis untuk kompos, atau dikenal dengan istilah pengkomposan.Hasilnya adalah kompos yang bisa digunakan sebagi pupuk dan gas methana yang bisa digunakan untuk membangkitkan listrik.

Contoh dari pengelolaan sampah menggunakan teknik pengkomposan adalah Green Bin Program (program tong hijau) di Toronto, Kanada, dimana sampah organik rumah tangga , seperti sampah dapur dan potongan tanaman dikumpulkan di kantong khusus untuk di komposkan.

4. Pemulihan energi

Komponen pencernaan Anaerobik di pabrik

L├╝beck mechanical biological treatment di Jerman, 2007

Kandungan energi yang terkandung dalam sampah bisa diambil langsung dengan cara menjadikannya bahan bakar, atau secara tidak langsung dengan cara mengolahnya menajdi bahan bakar tipe lain. Daur-ulang melalui cara "perlakuan panas" bervariasi mulai dari menggunakannya sebakai bahan bakar memasak atau memanaskan sampai menggunakannya untuk memanaskan boiler untuk menghasilkan uap dan listrik dari turbin-generator. Pirolisa dan gasifikasi adalah dua bentuk perlakukan panas yang berhubungan , dimana sampah dipanaskan pada suhu tinggi dengan keadaan miskin oksigen. Proses ini biasanya dilakukan di wadah tertutup pada Tekanan tinggi. Pirolisa dari sampah padat mengubah sampah menjadi produk berzat padat , gas, dan cair. Produk cair dan gas bisa dibakar untuk menghasilkan energi atau dimurnikan menjadi produk lain. Padatan sisa selanjutnya bisa dimurnikan menjadi produk seperti karbon aktif. Gasifikasi dan Gasifikasi busur plasma yang canggih digunakan untuk mengkonversi material organik langsung menjadi Gas sintetis (campuran antara karbon monoksida dan hidrogen). Gas ini kemudian dibakar untuk menghasilkan listrik dan uap.

Dan bagaimana pengolahan sampah di kawasan pesisir iu sendiri, perlu diketahui bahwa pengolahan sampah di kawasan pesisr tidak jauh beda dengan pengolahan sampah di daerah lainnya karena jenis sampah yang dihailkan pun tidak jauh beda karena sampah yang dihasilkan di kawasan pesisir ini sebagian besar bersal dari aktivitas rumah tangga.

Pada dasarnya,ada 3 hal yang mempengaruhi timbulanya sampah di kawasan pesisir diantaranya :

1. Kesadaran masyarakat yang tinggal dan melakukan aktivitas di lingkungan pesisir, sering menganggap wilayah pantai sebagai tempat pembuangan sampah yang gratis, relatif murah dan mudah (praktis). Hal ini selain disebabkan tingginya tingkat kemiskinan masyarakat pesisir, rendahnya pendidikan, tingkat kesehatan yang tidak memadai, juga kurangnya informasi tentang kebersihan lingkungan, telah menyebabkan perairan pesisir menjadi “keranjang sampah” dari berbagai macam kegiatan manusia baik yang berasal dari dalam wilayah pesisir maupun di luarnya (lahan atas dan laut lepas). Akibatnya pembuangan sampah sembarangan telah mengurangi nilai keindahan dan kenyamanan “kemolekan” lingkungan pantai.

2. Sebagai outlet dari daratan, sampah pesisir tidak bisa dilepaskan dari lahan atas (up land). Aktivitas manusia di wilayah daratan (land based activity), seperti membuang sampah di barangka dan selokan secara langsung menyebabkan terjadinya banjir, dan pada gilirannya sampah tersebut bermuara ke wilayah pesisir.

3. Sebagai kota pantai, sampah-sampah pesisir juga tidak dapat dilepaskan dengan pola sirkulasi arus air sehingga mempengaruhi keberadaan sampah. Untuk itu juga perlu ada kerjasama antar Pemerintah Daerah, seperti peraturan daerah bersama terhadap model penanganan sampah pesisir.

Pengelolaan sampah pesisir perlu dielaborasi lebih jauh dengan mempertimbangkan beberapa aspek yaitu:

1. Aspek Teknis

2. Aspek Kelembagaan

3. Aspek Manajemen dan Keuangan

Dengan 3 aspek ini, dapat dilakukan suatu rencana tindak (action plan) yang meliputi:

1) Melakukan pengenalan karekteristik sampah pesisir dan metoda penanganannya

2) Merencanakan dan menerapkan pengelolaan persampahan secara terpadu(pengumpulan, pengangkutan, dan pembuangan akhir)

3) Memisahkan peran pengaturan dan pengawasan dari lembaga yang ada dengan fungsi operator pemberi layanan, agar lebih tegas dalam melaksanakan reward & punishment dalam pelayanan,

4) Menggalakkan program Reduce, Reuse dan Recycle (3 R) agar dapat tercapai program zero waste pada masa mendatang,

5) Melakukan pembaharuan struktur tarif dengan menerapkan prinsip pemulihan biaya (full cost recovery) melalui kemungkinan penerapan tarif progresif, dan mengkaji kemungkinan penerapan struktur tarif yang berbeda bagi setiap tipe pelanggan

6) Mengembangkan teknologi pengelolaan sampah yang lebih bersahabat dengan lingkungan dan memberikan nilai tambah ekonomi bagi bahan buangan.

E. Pengolahan Sampah dan Dampaknya Bagi Masyarakat dan Lingkungan

Manfaat pengelolaan sampah

  1. Penghematan sumber daya alam
  2. Penghematan energi
  3. Penghematan lahan TPA
  4. Lingkungan asri (bersih, sehat, nyaman)

Bencana sampah yang tidak dikelola dengan baik

  1. Longsor tumpukan sampah:
  2. Sumber penyakit
  3. Pencemaran lingkunga

Pengaruh Pengolahan Sampah Terhadap Masyarakat dan Lingkungan

Pengolahan sampah akan membawa pengaruh bagi masyarakat dan lingkungan itu sendiri. Pengaruh tersebut ada yang bersifat positif dan ada yang negatif. Pengaruh positif yaitu:

4. Sampah dapat dimanfaatkan untuk menimbun lahan semacam rawa-rawa dan dataran rendah.

5. Sampah dapat dimanfaatkan untuk pupuk.

6. Sampah dapat diberikan makanan ternak setelah menjalani proses pengelolaan yang telah ditentukan lebih dahulu untuk mencegah pengaruh buruk sampah tersebut terhadap ternak.

7. Pengolahan sampah menyebabkan berkurangnya tempat untuk berkembangniaknya serangga atau binatang pengerak lainnya.

8. Menurunkan insiden kasusu penyakit menular yang erat hibungannya dengan sampah.

9. Keadaan estetika lingkungan yang bersih menimbulkan kegairahan hidup masyarakat.

10. Keadaan lingkungan yang baik akan menghemat pengeluaran dana kesehatan suatu negara.

Pengaruh Negatif Pengolahan sampah yang kurang baik tidak hanya berpengaruh buruk terhadap kesehatan lingkungan namun akan berdampak pula bagi kehidupan social ekonomi dan budaya masyarakat seperti berikut:

1. Pengaruh terhadap kesehatan

a. Pengelolaan sampah yang kurang baik akan menjadikan sampah sebagai tempat perkembangbiakan vector penyakit seperti lalat atau tikus.

b. Insiden penyakit demam berdarah akan meningkat karena vector penyakit hidup dan berkembang biak dalam sampah kaleng ataupun ban bekas yang berisi air hujan.

c. Terjadinya kecelakaan akibat pembuangan sampah secara sembarang.

d. Gangguan psikosomatis, misalnya sesak napas, insomnia, stres dan lain-lain.

2. Pengaruh terhadap lingkungan.

a. Estetika lingkungan menjadi kurang sedap dipandang mata.

b. Proses pembusukan sampah oleh mikroorganisme akan menghasilkan gas-gas tertentu yang menimbulkan bau busuk.

c. Pembakaran sampah dapat menimbulkan pencemaran udara dan bahaya kebakaran yang lebih luas.

d. Pembuangan sampah ke dalam saluran pembuangan air akan menyebabkan aliran air terganggu dan saluran air menjadi dangkal.

e. Apabila musim hujan datang, sampah yang menumpuk dapat menyebabkan banjir dan dan menyebabkan pencemaran pada sumber air permukaan atau sumur dangkal.

3. Terhadap ekonomi dan budaya masyarakat

a. Pengolahan sampah yang kurang baik mencerminkan keadaan social budaya masyarakat setempat.

b. Keadaan lingkungan yang kurang baik akan menurunkan minat orang lain untuk dating berkunjung ke daerah tersebut.

c. Kegiatan perbaikan lingkungan yang rusak memerlukan dana yang besar.

d. Menurunkan mutu sumber daya alam sehingga mutu produksi menurun dan tidak memiliki nilai ekonomis.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari pemaparan pembahasan tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa:

1. Menurut WHO, defenisi sampah adalah sesuatu yang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak disenangi, atau sesuatu yang dibuang yang berasal dari kegiatan manusia dan tidak terjadi dengan sendirinya.

2. Pembagian sampah padat:

1). Berdasarkan zat kimia yang terkandung di dalamnya,

* Organik, misalnya, sisa makanan.

* Anorganik, misalnya, logam, pecah-belah, abu dan lain-lain.

2). Berdasarkan dapat atau tidaknya dibakar

* Mudah tertbakar, misalnya: Kertas pelastik, daun kering, kayu.

* Tidak mudah terbakar, misalnya kaleng, besi, gelas dan lain-lain.

3). Berdasarkan dapat atau tidaknya membusuk

* Mudah membusuk misalnya, makanan, potongan daging, dan sebagainya.

* Sulit membusuk, misalnya, plastic, kaleng, karet dan sebagainya.

4). Berdasarkan ciri atau karakteristik sampah

3. Konsep pengelolaan sampah:

1). Hirarki Sampah - hirarki limbah merujuk kepada " 3 M " mengurangi sampah, menggunakan kembali sampah dan daur ulang,

2). Perpanjangan tanggungjawab penghasil sampah / Extended Producer Responsibility (EPR).(EPR)

3). Prinsip pengotor membayar

4. Tahap metode pengolahan sampah:

1). Metode Penghindaran dan Pengurangan

2). Tahap pengumpulan dan penyimpanan

3). Tahap pengangkutan

4). Tahap penimbunan darat

5). Tahap pemusnahan sampah

5. Dampak pengolahan sampah

Pengolahan sampah akan membawa pengaruh bagi masyarakat dan lingkungan itu sendiri. Pengaruh tersebut ada yang bersifat positif dan ada yang negatif. Pengolahan sampah dengan baik dan terarah maka akan berdampak baik pula bagi lngkungan dan masyarakat. Namun sebaliknya,pengolahan sampah yang kurang baik tidak hanya berpengaruh buruk terhadap kesehatan lingkungan namun akan berdampak pula bagi kehidupan social ekonomi dan budaya masyaraka.

B. Saran

Diharapkan kepada pemerintah agar lebih memperhatikan lagi masalah persampahan khususnya di kawasan pesisir, karena selama ini masalah sampah masih menjadi masalah yang cukup serius, karena selama ini masyarakat pesisir masih menganggap remeh tentang sampah, misalnya menjadikan laut sebagai tempat pembuangan sampah, oleh karena itu pemerintah harus dapat memberikan solusi tentang masalah tersebut misalnya menyipkan tempat-tempat sampah dikawasan psisir dan memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang persampahan.

DAFTAR PUSTAKA

Chandra, Budiman Dr, Pengantar Kesehatan Lingkungan, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 2007.

Suyoto ,Bagong, Fenomena Gerakan Mengolah Sampah,PT.Prima Infosarana Media,Jakarta,2008.

http://id.wikipedia.org/wiki/Pengelolaan_sampah diakses tanggal 9 November 2009.

http://www.esp.or.id/handwashing/media/sampah.pdf

teknologi pengelolaan sampah diakses tanggal 9November 2009

http://majarimagazine.com/2007/12/teknologi-pengolahan-sampah/

usaha pengelolaan sampah masyarakat diakses tanggal 10 November 2009

http://www.idepfoundation.org/indonesia/idep_wastegroup.htmlssss diakses tanggal 11 November 2009

58 komentar:

Anonim mengatakan...

Nama : Andi Haerani
NIM : 70200106072
Kelompok V

Assalamu Alaikum............,
Yang ingin saya tanyakan, terkait dengan masalah sampah di wilayah pesisir, sebagaimana kita ketahui bahwa wilayah pesisir, biasanya terkenal dengan wisata bahari atau keindahan lautnya. Bagaimana menjaga keindahan laut (bebas sampah)? dan Bagaimana usaha-usaha baik dari pihak pemerintah maupun masyarakat terkait dalam membuat dan merealisasikan program-program untuk menagani sampah di daerah pesisir?????

Anonim mengatakan...

Nama : ARIYANTI HUSAIN
NIM : 70200106073
KELOMPOK VI
Setelah membaca makalah yang anda sajikan, adapun pertanyaan yang ingin saya tanyakan mengenai masalah teknik pengolahan sampah....
pada teknik pengolahan sampah yang anda sebutkan misalnya teknik pembakaran, daur ulang, pengolahan biologis dan lain- lain.....
menurut anda dari beberapa teknik pengolahan tersebut manakah yg baik digunakan untuk menangani sampah di daerah pesisir dan apakah ada perbedaan cara pengolahan sampah di pesisir dengan perkotaan???
jelaskan!!!

Anonim mengatakan...

Risnawati Anwas (70200106063)/KLP III

Assalamu alaikum....
Sampah memang merupakan objek yang sangat menarik untuk dikaji, termasuk dalam makalah yang kelompok anda sajikan. Akan tetapi, setelah membaca isi makalah tersebut, saya ingin memberikan tanggapan,
1. dalam makalah di atas, tidak diberikan satu model khusus penanganan sampah untuk daerah pesisir yang bisa direkomendasikan kepada pemda di kawasan pesisir. jadi, saya mengharapkan anda bisa memberikan penjelasannya!!!
2. jika ditelaah, kondisi daerah pesisir yang cukup terbatas dengan sarana dan prasarana membuatnya sulit untuk berkembang dibanding daerah perkotaan, termasuk dengan sarana pengelolaan sampah. menurut anda, kegiatan apa yang diperlukan untuk mengatasi hal tersebut.

Anonim mengatakan...

NAMA : SAHRIANI
NIM : 70200106044
KELOMPOK : II
Makasih atas pertayaann dari saudari ARIANTI yang pertama menurut saya semua tehnik pengolahan sampah itu baik yang pentig kita sesuaikan dengan situasi dan kondiai lingkungan,karena pengolahan sampah yang baik bukan untuk kepentingan kesehatan saja tetapi juga untuk keindahan lingkungan.Kemudian pertayaan yang ke dua menurut saya tidak ada perbedaan pengolahan sampah di pesisir dan perkotaan karena sama-sama menghasilkan sampah organik dan anorganik.

Anonim mengatakan...

INDRI MILA CAHAYA/70200106077/KLPII
Waalaikum salam...........
sebelumnya terima kasih banyak kepada teman-teman yang telah memberikan tanggapannya terhadap penyajian makalah Pengelolaan Sampah.
Saya ingin meanggapi pertanyaan saudari Andi Haerani,
seperti yang telah dipaparkan dalam makalah kami yaitu mencanangkan beberapa program penanganan sampah khususnya di wilayah kawasan pesisir dengan memperhatikan 3aspek penting yaitu:1.aspek teknis yaitu mengenali karakteristik sampah itu sendiri,menerapkan pengelolaan sampah secara terpadu(pengumpulan,pengangkutan,dan pembuangan akhir).2.Aspek kelembagaan yaitu dengan memisahkan peran pengaturan dan pengawasan dari lembaga yang ada dengan fungsi operator pemberi layanan, agar lebih tegas dalam melaksanakan reward & punishment dalam pelayanan.Menggalakkan program Reduce, Reuse dan Recycle (3 R) agar dapat tercapai program zero waste pada masa mendatang.3.Aspek manajemen dan keuangan yaitu dengan melakukan pembaharuan struktur tarif dengan menerapkan prinsip pemulihan biaya (full cost recovery) melalui kemungkinan penerapan tarif progresif, dan mengkaji kemungkinan penerapan struktur tarif yang berbeda bagi setiap tipe pelanggan,Mengembangkan teknologi pengelolaan sampah yang lebih bersahabat dengan lingkungan dan memberikan nilai tambah ekonomi bagi bahan buangan.
Kami rasa melalui usaha penanganan sampah tersebut telah diprogram dengan baik,untuk itu diperlukan kerja sama yang baik dari pihak pemerintah dan terlebih lagi dari kesdaran masyarakat itu sendiri agar program penganganan sampah khususnya di kawasan pantai&pesisir dapat direalisasikan.

Anonim mengatakan...

Ketika membayangkan pantai dan laut biasanya pemandangan yang terlintas di benak kita adalah barisan nyiur melambai di atas hamparan pantai pasir putih yang bersih, berbatasan dengan laut yang berwarna biru kehijauan. Tak ketinggalan bayangan tentang beraneka ikan hias dan terumbu karang yang berwarna-warni di bawah laut, seperti mengundang kita untuk berenang ke bawah laut. Wah indahnyaaa…

Tapi anehnya, saat kita tiba di pantai yang dituju, kok yang ditemui justru pantai dengan sampah yang berserakan di mana-mana. Begitu juga saat berenang, snorkeling atau menyelam di laut, kok yang kita temui malah kantong plastik dan berbagai kemasan makanan yang mengapung, serta botol, kaleng minuman bahkan sandal karet yang tergeletak di pasir atau di antara karang. Uuhh…gak seru banget deh!
Nah prtanyaan saya....
Apa yang bisa kita lakukan untuk mengurangi dampak akibat sampah di laut????

Anonim mengatakan...

Pertanyaan Dari Maqbul Syarief mengomentari kelompok 2....

Anonim mengatakan...

azidin anhar
70200106029

bagaimana megatasi dan mengelolah sampah buangan dari suatu pulau ke daerah pesisir pantai lainnya????
contoh di daerah jakarta yang sampahnya sampai di kepulauan seribu.
Tx

Anonim mengatakan...

Nama : Irsan ahmad
Nim :70200106009
smlequm................!!!!!!!!!!
stelah sy mengamati pembahasan yang telah di sajikan cukup bagus, ada beberapa hal yang ingin saya tanggapi dari makalah tersebut;
1. sejauh mana peranan pemerintah yang terkait dalam penanganan dan penangulangan sampah di kawasan pesisir di pulau pulau luar atau pulau yang terpencil?
2. bagaimana cara yang efektif dan efisiensi dalam pengerutan smpah padat di kawasan pesisir pantai kerena dilihat penomena sekarang kesemrautan sampah kurang teratasi misalnya di tangjung bayang yang sampahnya berserakan.?

Anonim mengatakan...

Nama : Maqbul syarief
klmp : iv
Nim : 70200106035

1. Hampir 90% sampah yang dibuang ke laut adalah sampah plastik. Diperkirakan setiap 2,6 km persegi terdapat 46 ribu sampah plastik mengapung di lautan (UNEP, 2006)
2. Sampah seperti jaring atau tali pancing menganggu pergerakan satwa laut yang terjerat di dalamnya
3. Banyak penyu, burung, ikan dan paus yang mati akibat salah mengira plastik sebagai makanan mereka.
4. Sampah plastik membutuhkan ratusan tahun untuk hancur secara alami. Ini menyebabkan sampah laut akan terus membahayakan kehidupan satwa laut.
5. Tumpukan sampah di laut tidak hanya mengancam kehidupan satwa laut, tapi juga terumbu karang.

Nah Dampaknya bagi kita apa????

Anonim mengatakan...

nama :Rahmatullah
nim :70200106040

“Penanganan sampah pesisir di sangat kompleks, setidaknya ada 3 hal yang mempengaruhi yaitu (1)sampah dari masyarakat yang tinggal dan melakukan aktivitas di wilayah pesisir. (2) sampah kiriman dari wilayah daratan atas (up land) yang mengalir dari barangka dan selokan yang bermuara ke pesisir dan pantai, serta (3)sampah kiriman dari daerah pesisir lain yang saling berdekatan, akibat dari pola sirkulasi arus air.” pertanyaannya ialah apa upaya yang semestinya di lakuka untuk menangani masalah ini??

Anonim mengatakan...

Nama:ASMAWATI
NIM :70200106028

Sampah merupakan hasil kegiatan manusia yang dibuang karena sudah tidak berguna dan di mana perLu penanganan tersendiri,yang ingin saya tanyakan bagaimana tanggapan anda apabila sampah yang ada dipesisir pantai mencemari air laut dan apakah peranan penduduk yang tinggal di sekitar pesisir pantai mengenai air laut yang sudah tercemar??

Anonim mengatakan...

Nama:SAHRIANI
NIM :70200106044

Terima kasih atas pertanyaan dari saudari ASMAWATI,untuk pertanyaan pertama menurut saya apabila sampah yang ada dipesisir pantai mencemari air laut maka organisme-organisme yang hidup dilaut akan terkontaminasi oleh zat-zat yang terkndung dalam sampah tersebut.Kemudian yang kedua menurut saya peranan penduduk yang tinggal di sekitar pesisir pantai mengenai air laut yang sudah tercemar adalah penduduk tersebut harus secepatnya mengambil tindakan yaitu dengan cara mengumpulkan dan mengangkut sampah yang ada disekitar pesisir pantai ke TPA.

Anonim mengatakan...

NAMA : mutmainna
NIM : 70200106086
KLP : VI

Assalamu alikum,,,,,,,,,,,,
berbicara masalah sampah tidak lepas dari hasil pembuangan atau sesuatu yang tidak digunakan lagi, dari hasil makalah diatas adapun pertanyaan saya adalah:
1. kita ketahui bahwa sampah dapat menghasilkan volusi yang dapat berbahaya, bagaimana menurut anda tentang pemusnahan sampah yang dilakukan dengan cara membakar, sedangkan dapat menghasilkan gas, uap dan abu, yang dapat berdampak bagi kesehatan dan lingkungan??
2. kesadaran masyarakat hal membuang sampah pada tempatnya memang belum terlaksana dengan baik, meskipun masyarakat tentunya sudah mengetahui bahwa dapat berbahaya bagi masyarakat itu sendiri, bagaimana pendapat anda tentang hal ini??

Anonim mengatakan...

Nama : Muharti Syamsul
NIM : 70200106085
Klmpk: V

Assalamu Alaikum wr.wb.

Dari makalah klmpk.II, singkat saja yang ingin saya tanyakan. Bagaimana tanggapan anda mengenai akumulasi limbah yang terjadi di wilayah pesisir ???

Anonim mengatakan...

Nama : Andi haerani
NIM : 70200106072

Terima kasih indri atas tanggapannya, tapi dari ketiga aspek yang ada sebutkan tadi apakah itu sudah real di jalankan di kawasan pesisir? bisakah anda memberi contoh kasus wilayah pesisir yang sudah menjalankan program tersebut dan sudah mampu menagani masalah sampahnya sendiri?!
Syukran.....

Anonim mengatakan...

Ummul Waqiah /70200106092 (klp.6)
assalamu 'alaykum..
Langsung saja...
1. terkait dgn judul makalah, disana saudara menuliskan judulnya yakni SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH PADAT DI WILAYAH PANTAI & PESISIR. Sy sering mendapatkan informasi dari berbagai sumber termasuk media massa yg mengatakan bahwa limbah padat itu sama dengan sampah atau dgn kata lain bahwa yg dimaksud dengan limbah padat adalah sampah.Lalu bgmn dgn sampah padat? Apakah sampah padat bagian dari sampah? dan bisakah anda menjelaskan defenisi masing-masing (sampah dan sampah padat)? Menurut sy, penulisan sebuah judul itu sangat penting krn hanya dgn melihat judul,pembaca sdh bisa menangkap ttg apa yg akan dibahas oleh penyaji namun setelah sy membaca keseluruhan,yg dibahas di dalamnya hanyalah tentang sampah. Sepertinya kita perlu menyamakan asumsi ttg pengertian sampah itu sendiri agar tdk terjadi kekeliruaan tentunya tdk lepas dari literatur yg ada.
2. Pada p.6 (baca: paragraf 6)sedikit disinggung mengenai logam berat. Pertanyannya, tolong sebutkan contoh-contoh sampah yang mengandung logam berat dan jenis logam berat apa yg dikandungnya.
3. Praktek pengelolaan sampah berbeda beda antara Negara maju dan negara berkembang (bab pembahasan point A p.5). Tolong jelaskan secara singkat bgmn pengelolaan sampah di negara maju?? Mungkinkah Indonesia yg merupakan negara berkembang bisa mengaplikasikan praktek tsb??
4. Jumlah populasi mempengaruhi jumlah sampah yg diproduksi. dan sampah2 yg ada di kawasan pesisir tdk sedikit adalah merupakan sampah kiriman dari daratan. Berhubung banyaknya masyarakat yg bertempat tinggal di kawasan pesisir & banyaknya sampah kiriman, menurut anda mengapa pemerintah tdk membangun saja tempat penampungan akhir (TPA) di kawasan pesisir?? Kan biar masyarakat lebih mudah dlm menangani sampah.
4. Kawasan pesisir tak hanya sebagai tempat hunian masyarakat, tapi juga dimanfaatkan sbg pariwisata,industri, dll. Pertanyaan: Apakah jmlh sampah yg dihasilkan sama banyak antara pesisir yg dihuni masyarakat, yg djadikan pariwisata dgn yg ditempati untuk melakukan kegiatan industri?
5. Biasanya dlm sebuah kota/kabupaten, masyarakat dikenakan biaya retribusi sampah oleh dinas kebersihan kota sebagai biaya atas jasa pengangkutan sampah mereka. Namun kenyataannya, pihak dinas kebersihan dlm hal ini pemerintah terkadang mengabaikan kewajibanya dlm pengangkutan sampah & kurang memperhatikan pengangkutan tersebut. Bgmn menurut anda dengan sikap pemerintah yg seperti ini?? Bukankah masalah sampah bukan hanya masalah individu atau masyarakat tertentu yg bermukim di suatu wilayah tapi juga merupakan masalah pemerintah yg penanganannya juga membutuhkan kerjasama antara masyarakat dan pemerintah. Lalu bagaimana menurut saudara dengan kasus di atas? Dimana peran serta pemerintah?

terima kasih banyak atas waktunya menjawab pertanyaan saya..
semoga bisa menambah wawasan bagi semua pembaca.

Anonim mengatakan...

Nama :Risno
Nim : 70200106042
thanks ats penyajian makalahnya namun asumsi saya bahwa sampah yang ada di daerah pesisir pantai tidak semuanya berasal dari pesisir pantai daerah setempat, bisa saja sampah tersebut berasal dari pesisir lain (di luar dari daerah yang tercemar)mungkin diakibatkan oleh arus laut atau adanya industri yang membuang sampah limbahnya di kawasan pesisir atau adanya oknum yang tidak bertanggung jawab. yang saya ingin tanyakan.
1.tindakan apa yang anda lakukan dalam mengatasi masalah tersebut
2.apa yang di maksud dengan aspek tehnik, aspek kelembagaan, dan aspek menajemen/keuangan, dalam pengelolaan sampah daerah pesisir pantai,?

Anonim mengatakan...

nama :abd majid hr lagu
nim : 70200106070
kel : IV
assalamualaikum wr.wb.
setelah saya membaca makalah anda ada beberapa hala yang ingin saya diskusikan yaitu :
1.Daerah pesisir merupakan daerah yang dijadikan sebagi daerah industry, celakanya kebanyakan limbah sisa produksinya langsung di buang ke laut. bagaimana tanggapan anda tentang kejadian ini dan langkah apa yang di tempuh agar kejadian seperti ini tidak terjadi?
2.Masalah sampah merupakan masalah yang mengglobal di Negara kita termasuk di daerah pesisir. Melihat realita ini apa yang menjadi kendala sehingga masalah sampah di daerah pesisir belum dapat tertangani secara maksimal!

Anonim mengatakan...

nama : imran
nim :70200106076
assalamualaikum,hai teman-teman apa kabar? aku imran pengen nanya:
1.Bagaimanakah cara mengatasi sampah organic yang beradah dipesisir pantai?
2.Saya ingin menanggapi jawaban dari saudari SAHRIANI yang mengatakan bahwa pengolahan sampah dipesisir dan diperkotaan itu sama, menurut saya pengolahan sampah didaerah pesisir dan perkotaan tidak sama. Sebab didaerah pesisir memiliki sarana dan perasarana serta infrastruktur yang kurang memadai selain itu persentasi sampah di daerah perkotaan dan pesisir tentunya berbeda.

Anonim mengatakan...

dari pertanyaan saudari ela bahwa kita tau wilayah indonesia adalah sebgian besar adalah kepulauan maka seharusnya kita menjaga kelestarian ekosisten perairan kita, dalam hal masalah sampah disisni maka seharunya pemerintah dan masyarakat yang berada di kawasan pesiir harus bekerja sama dalam hal menanganani masalah sampah, karena bila hanya salah satu pihak yang bekerja maka tidak akan berjalan dengan lancar, adapun hal-hal yang bisa dilakukan misalnya pemerintah harus membuat payung hukum agar masalah sampah dikawasan pesisir ini dapat diatasi, program-program lain misalnya pengolahan sampah berbasis masyarakat dikawasan pesisir. (Anwar Mbolosi 70200106027 kelompok II)

Anonim mengatakan...

Nama : ANWAR MBOLOSI
NIM :70200106027
KELOMPOK : II
dari pertanyaan saudari arianti husain saya rasan metode pengelolaan sampah yang kami sajikan bagus semua, tergantung masyarakat itu sendiri mana yang mereka pilih, kita tau kita tau teknik pembakaran, daur ulang, pengolahan biologis merupakan metode-metode dalam pengeloaan sampah, tergantung mana yang masyarakat pilih. adapun pengolahan sampah di kawasan pesisir dan pantai saya rasa tidak ada perbedaan karena intinya baik dikawasan pantai dan pesisir maslah sama-sama menginginkan bagaimana mencarikan solusi tentang pemecahan masalah sampah ini.

Anonim mengatakan...

NAMA : ANWAR MBOLOSI
NIM :70200106027
KELOMPOK : II
terimakasih atas pertanyaan saudara azidin anhat, memang kita tau masalah yang anda maksudkan tidak gampang tapi kalau memang pemerintah berkomitmen dan memberikan payung hukum yang kuat tentang masalah persampahan kenapa tidak bisa dia atasi pasti bisa, namun kita kembali lagi bagaimana kesadaran dari masyarakat tentang masalah sampah tersebut, untuk mengantasi hal yang sudah terlanjut seperti pertanyaan saudara maka yang harus dilakukan pemerintah DKI Jakarta adalah melakukan pemungutan sampah di peraian jakarta tersebut.

Anonim mengatakan...

NAMA : ANWAR MBOLOSI
NIM : 70200106027
KELOMPOK : II

yang bisa kita lakukan untuk mengurangi dampak akibat sampah di laut adalah misalnya masyarakat dapat memungut sampah yang ada dilaut kemudian memisahkan sampah tersebut mana sampah yang bisa didaur ulang, dan mana sampah yang tidak bisa didaur ulang, kalau sampah yang bisa di daur ulang masarakat dapat mengolahnya atau membawanya ke tempat-tempat pengolahan sampah dan dapat bernilai ekonomis, sedangkan sampah yang tidak dapat di daur ulang dapat bakar atau ditimbun.

Anonim mengatakan...

NAMA : ANWAR MBOLOSI
NIM : 70200106027
KELOMPOK : II

terimakasi pertanyaan dari saudari makbul syarief, seperti dampak yang saudari maksudkan itu sebenarnya akan kembali juga berdampak bagi manusia mengapa bila ekosistem lingkungan terganggu secara tidak langsung manusia jg akan mengalami dampaknya misalnya akibat samampah dilaut ikan-ikan akan susah ditangkap yang akibatnya akan mengurangi pendapatan nelayan, kemudian pantai yang kotor akan mengakibatkan manusia tidak dapat menikmati keindahan lau, oleh karena itu semuanya saling keterkaitan.

Anonim mengatakan...

NAMA : ANWAR MBOLOSI
NIM :70200106027
KELOMPOK : II

terima kasih atas pertanyaan saudara rahmatullah memang kita tau penanganan sampah khususnya dikawasan pesisir tidak segampang yang kita banyangkan karena kita tau wilayah pesisr sumber sampahnya bukan hanya bersal dari masyarakat pesisir itu sendiri melainkan berasal juga dari masyarakat yang berda di pulau lain oleh karena itu sebenarnya yang harus dilakukan adalah bagaimana menumbuhkan kesdaran dan upaya dari masyarakat dan pemerintah tentang penanganan maslah sampah, misalnya pemerintah memberikan payung hukum yang kuat tentang masalah sampah disini, kemudian dari masyarakat harus mematuhinya, selain itu program-program yang dapat dilakukan adalah membuat pengolahan sampah berbasis masyarakat.

Anonim mengatakan...

NAMA : ANWAR MBOLOSI
NIM :70200106027
KELOMPOK : II

terima kasih atas pertanyaan dari saudari asmawati, itulah sebenarnya yang menjadi persoalan diwilayah pesisir mengapa karena kita tau tingkat kesadaran masyarakat yang masih rendah mengakibatkan masyarakat masih menganggap remeh tentang masalah sampah disini misalnya masyarakat langsung membuang samapah di laut, oleh karen itu sebenarnya yang harus kita tumbuhkan adalah bagaimana masyarakat menyadari bahwa membuang sampah dilaut adalah perbuatan yang kurang baik, karena itu akan berdampak juga bagi masyarakat itu sendiri.



Sampah merupakan hasil kegiatan manusia yang dibuang karena sudah tidak berguna dan di mana perLu penanganan tersendiri,yang ingin saya tanyakan bagaimana tanggapan anda apabila sampah yang ada dipesisir pantai mencemari air laut dan apakah peranan penduduk yang tinggal di sekitar pesisir pantai mengenai air laut yang sudah tercemar??

Anonim mengatakan...

NAMA : ANWAR MBOLOSI
NIM :70200106027
KELOMPOK : II

dari pertanyaan saudara no 1 memang membakar sampah dapat menimbulkan pencemaran namun kalau memang pembakaran dalam jumlah kecil apalagi pembakaran sampah yang dilakukan di masyarakat saya rasa tidak terlalu berdampak bagi lingkungan mengapa karena itu skalanya masih kecil dan metode ini merupakan metode yang cukup mudah dan murah untuk mengatasi masalah sampah, dan bila dibandingkan polusi yang diakibatkan pabrik dan asap kendaraan bermotor kan jauh tingkat perbedaannya,
kemudian untuk pertanyaan no.2 memang kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya masih kecil, oleh karena itu sebenarnya ini yang harus kita tumbuhkan misalnya membuat program-program misalnya pengolahan sampah berbasis masyarakat.
Assalamu alikum,,,,,,,,,,,,
berbicara masalah sampah tidak lepas dari hasil pembuangan atau sesuatu yang tidak digunakan lagi, dari hasil makalah diatas adapun pertanyaan saya adalah:
1. kita ketahui bahwa sampah dapat menghasilkan volusi yang dapat berbahaya, bagaimana menurut anda tentang pemusnahan sampah yang dilakukan dengan cara membakar, sedangkan dapat menghasilkan gas, uap dan abu, yang dapat berdampak bagi kesehatan dan lingkungan??
2. kesadaran masyarakat hal membuang sampah pada tempatnya memang belum terlaksana dengan baik, meskipun masyarakat tentunya sudah mengetahui bahwa dapat berbahaya bagi masyarakat itu sendiri, bagaimana pendapat anda tentang hal ini??

Anonim mengatakan...

NAMA : ANWAR MBOLOSI
NIM :70200106027
KELOMPOK : II

terimakasih pertanyaan dari saudari muharti Syamsul, tanggapan kami maslah sampah disini merupakan masalah yang cukup serius oleh karena itu seharusnya pemerintah dan masyarakat harus berperan aktif dalam menangani masaalah sampah disini

Anonim mengatakan...

NAMA : ANWAR MBOLOSI
NIM :70200106027
KELOMPOK : II

kita tau hal ini memang menjadi persoalan yang cukup serius, oleh karena itu seharusnya pemerintah khususnya pihak-pihak terkait dan masyarakat harus berperan aktif dalam mengatasi hal tersebut agar hal ini tidak berkelanjutan karena pada akhirnya akan merugikan masyarakat itu sendiri,
adapun aspek-aspek yang saudara maksud adl aspek teknis yaitu mengenali karakteristik sampah itu sendiri,menerapkan pengelolaan sampah secara terpadu(pengumpulan,pengangkutan,dan pembuangan akhir).2.Aspek kelembagaan yaitu dengan memisahkan peran pengaturan dan pengawasan dari lembaga yang ada dengan fungsi operator pemberi layanan, agar lebih tegas dalam melaksanakan reward & punishment dalam pelayanan.Menggalakkan program Reduce, Reuse dan Recycle (3 R) agar dapat tercapai program zero waste pada masa mendatang.3.Aspek manajemen dan keuangan yaitu dengan melakukan pembaharuan struktur tarif dengan menerapkan prinsip pemulihan biaya (full cost recovery) melalui kemungkinan penerapan tarif progresif, dan mengkaji kemungkinan penerapan struktur tarif yang berbeda bagi setiap tipe pelanggan,Mengembangkan teknologi pengelolaan sampah yang lebih bersahabat dengan lingkungan dan memberikan nilai tambah ekonomi bagi bahan buangan.

Anonim mengatakan...

NAMA : ANWAR MBOLOSI
NIM :70200106027
KELOMPOK : II

terimakasih pertanyaan dari saudara imran saya rasa cara mengatasi sampah organik di pesisir pantai cukup dengan cara penimbunan.

adapun tanggapan dari saudara imran bahwa penanganan sampah diperkotaan dan di pesisir tidak sama. saya rasa penanganan sampah sama cuma yang membedakan klu diperkotaan menggunakan fasilitas2 tertentu sedangkan di pesisir karena keterbatasan fasilitas menggunakan fasilitas seadanya namun intinya adalah baik diwilayah perkotaan maupun pesisir sama-sama berupaya bagaimana menangani maslah sampah disini.

Anonim mengatakan...

NAMA : ANWAR MBOLOSI
NIM :70200106027
KELOMPOK : II

terimakasih atas pertanyaan dari saudari risnawati memang kita tau penanganan sampah dikawasan pesisir masih menggunakan fasilitas seadanya dan kesadaran masyarakat yang masih kurang menyebapkan masalah sampah masih menjadi masalah yang cukup serius oleh karena itu seharusnya pemerintah jangan tinggal diam menanggapi hal ini misalnya melakukan program-program pemberdayaan masyarakat, misalnya pengolahan sampah berbasis masyarakat yang bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran tentang masalah persampahan khususnya di kawasan pesisir.

Anonim mengatakan...

untuk pertanyaan saudari Andi haerani, Arianty Husain, dan Risnawati anwas sy kira semuanya terkait dan sebagaimana pertanyaan anda semuanya sy hanya bs memaparkan dlm pengetahuan sy mengenai sampah seperti ini:Persoalan persampahan yang menonjol seringkali bukan masalah adanya sampah (Persoalan Hilir) tetapi lebih terkait ke persoalan hulu (Kesadaran Masyarakat), peningkatan kepedulian dan pemahaman masyarakat tentang sampah dan penanganannya dengan demikian akan berdampak besar terhadap berbagai hal yang terkait dengan sampah misalnya volume timbulan sampah, sarana dan prasarana penanganan sampah, serta dampak negatif sampah terhadap lingkungan. Masyarakat yang sadar akan sampah dan dampaknya secara otomatis akan berusaha menurunkan jumlah sampah yang dihasilkan tiap hari dengan membatasi pemakaian pembungkus yang sulit terdegrasi serta melakukan pengomposan terhadap bahan organik(reduce), menyimpan dan memanfaatkan ulang berbagai bahan pembungkus bahan non-organik (re-use), serta melakukan daur ulang recycle. Dampak positif ikutan akibat menurunnya volume sampah adalah sarana dan prasarana pengelolaan sampah yang mula-mula jauh dari mencukupi menjadi cukup. Volume sampah yang menurun juga akan menurunkan beban lingkungan.
Kepedulian masyarakat yang tinggi terhadap persoalan persampahan akan meningkatkan untuk ikut menangani dan mengatasi masalah sampah sehingga beban pemerintah yang ditimbulkan oleh masalah tersebut menjadi turun.

Anonim mengatakan...

sory lupa tulis nama jawaban td itu dr muh ishak sijaya

Anonim mengatakan...

MUH ISHAK SIJAYA
70200106055

DISINI sy akan menanggapi ppertanyaan abd majid dan beberapa pertanyaan yg terkait dgn pertanyaan saudara sbgmana hal yg sy ketahui ttg masalah sampah.Penanganan persoalan lingkungan saat ini lebih ditekankan ke pendekatan teknologi dan finansial daripada melalui pendekatan sosial, kemitraan, budaya, politik, hukum dan kelembagaan. Beberapa kasus lingkungan besar, misalnya sampah di pakistan, ternyata terkait dengan masalah budaya. Berkaitan dengan hal tersebut perlu pula, pendekatan yang baru serta perubahan paradigma dalam pengelolaan sampah, limbah dan pencemaran udara. Salah satu contoh, dalam pengelolaan persampahan yang selama ini terkontrasi hanya menangani timbunan sampah perlu diubah ke proses penyadaran masyarakat dalam hal sampah dan pengelolaanya, bila penanganan sampah saat ini tersentralisasi di TPA perlu dilakukan desentralisasi di level komunitas, bila sampah saat ini melulu menjadi urusan pemerintah maka pandangan tersebut perlu diubah sehingga sampah menjadi urusan para pihak, bila sampah selama ini dianggap sebagai beban biaya dan sosial maka perlu dicari alternatif sehingga sampah menjadi komoditas dan memiliki manfaat secara ekonoimi dan sosial,dan terakhir pengelolaan yang selama ini parsial perlu diubah enjadi pengelolaan yang sistemik.

Anonim mengatakan...

muh ishak sijaya
70200106055
sy akan menanggapi beberapa pertanyaan yg menanyakan ttg penanganan sampah yg dilakukan oleh pihak pemerintah n yg terkait.
penanganan sampah
 Perhatian Pemerintah
Motivasi utama harus datang dari pemerintah, karena tidak ada industri yang mau dengan sukarela membangun instalasi pengendalian pencemaran tanpa kewajiban dari peraturan pemerintah. Tujuan utama industri adalah menghasilkan keuntungan dan pengendalian pencemaran tidak termasuk dalam tujuan utama perusahaan serta akan mengurangi tingkat pendapatan dan keuntungan perusahaan.
 Ekonomi
Sebaiknya kondisi ekonomi suatu negara berkembang haruslah relatif baik
sebelum program pengendalian pencemaran industri mendapat prioritas.
 Ketersediaan Personil
Negara berkembang memiliki sedikit personil yang berkualitas untuk mengelola dan melakukan program pengendalian pencemaran industri. Tetapi bantuan ahli dapat diminta dari PBB atau lembaga lingkungan negara maju untuk mengirimkan penasehat jangka dan untuk membantu pembentukan lembaga baru.

Anonim mengatakan...

muh ishak sijaya
disini sy jg menangga[i pertanyaan saudara imran yg menanggapi jawaban sahriani yg mengatakan dy tdk setuju atas komentar sahriani bahwa pengolahan sampa di kota dgn di pesisir sama.
sy kira koment yg mengatakan ttg sampah di kota dgn di pesisir itu sama. klo anda mengatakan sarana di pesisir yg krg memadai di banding di kota sy kira sy tdk sepaham krn apa di pesisir dan di kota itu sama cr pengelolaanya krn ujung2nya sampah di pesisir jg diangkut dan dikelola oleh sarana dan prasarana yg ada dikota. n jg di kelola oleh pihak yg sama
contohnya petugas kebersihan di daerah pesisir dan dikota itu hanya satu lembaga.

Anonim mengatakan...

muh ishak sijaya
70200106055

Untuk lebih mengenal apa itu sampah maka berikut ini dikemukakan beberapa batasan atau pengertian mengenai sampah;
a) Menurut American Public Works Association (Solid Waste Collection Practise, 1975) solid waste or solid waste refers to the useless, unwanted or discarded materials, resulting from society normal activies. Wate may be solid, liquids, gasses. Only solid waste are classed as refuse.
b) Menurut WHO expert committee 1971 (john pickford solid waste in hot climates) solid waste are useless, unwanted or discarded material arise from man’s activies and not free flowng
c) Menurut George Tehobanoglous (solid waste 1977). Solid waste are all thet are normally solid and that are discarded as useless or unwanted
d) Dari batasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa segala sesuatu yang berasal dari hasil kegiatan manusia atau hewan bila tidak diinginkan lagi dianggap tidak berguna dan dibuang maka dianggap sebagai sampah. Sampah itu sendiri yang dimaksud ialah sampah padat (solid waste) atau semi padat.

Sampah merupakan material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses. Sampah merupakan konsep buatan manusia, dalam proses-proses alam tidak ada sampah, yang ada hanya produk-produk yang tidak bergerak.
Sampah dapat berada pada setiap fase materi; padat, cair, atau gas, ketika dilepaskan dalam dua fase yang disebutkan terakhir, terutama gas, sampah dapat dikatakan sebagai emisi. Emisi biasa dikaitkan dengan polusi.
Dalam kehidupan manusia, sampah dalam jumlah besar datang dari aktivitas industri, misalnya pertambangan, manufaktor, dan konsumsi. Hampir semua produk industri akan menjadi sampah pada suatu waktu, dengan jumlah sampah yang kira-kira mirip dengan jumlah sampah yang kira-kira mirip dengan jumlah konsumsi

Anonim mengatakan...

muh ishak sijaya

untuk pertanyaan ke-2 saudari ummul
Berdasarkan sifat kimia dan fisikanya, maka tingkat atau daya racun logam berat
terhadap hewan air dapat diurutkan (dari tinggi ke rendah) sebagai berikut merkuri
(Hg), kadmium (Cd), seng (Zn), timah hitam (Pb), krom (Cr), nikel (Ni), dan kobalt
(Co) (Sutamihardja dkk, 1982). Menurut Darmono (1995) daftar urutan toksisitas logam
paling tinggi ke paling rendah terhadap manusia yang mengkomsumsi ikan adalah
sebagai berikut Hg2+ > Cd2+ >Ag2+ > Ni2+ > Pb2+ > As2+ > Cr2+ Sn2+ > Zn2+. Sedangkan
menurut Kementrian Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup (1990) sifat
toksisitas logam berat dapat dikelompokan ke dalam 3 kelompok, yaitu bersifat toksik
tinggi yang terdiri dari atas unsur-unsur Hg, Cd, Pb, Cu, dan Zn. Bersifat toksik sedang
terdiri dari unsur-unsur Cr, Ni, dan Co, sedangkan bersifat tosik rendah terdiri atas
unsur Mn dan Fe.
1.Kadmium dalam air berasal dari pembuangan industri dan limbah pertambangan.
Logam ini sering digunakan sebagai pigmen pada keramik, dalam penyepuhan listrik,
pada pembuatan alloy, dan baterai alkali
2.Tembaga juga berasal dari buangan bahan yang mengandung tembaga seperti dari
industri galangan kapal, industri pengolahan kayu, dan limbah domestik.
3.Logam timbal (Pb) berasal dari buangan industri metalurgi, yang bersifat racun
dalam bentuk Pb-arsenat. Dapat juga berasal dari proses korosi lead bearing alloys.
sy kira ontoh diatas sdh bs menutupi pertanyaan anda

Anonim mengatakan...

muh ishak sijaya

sy akan menjawab pertanyaan saudari ummul yg mengatakan mengapa pemerintah tdk membangun saja tempat penampungan akhir (TPA) di kawasan pesisir??
sy kira sbgmana yg kita ketahui bahwa di negara kita terkendala dgn masalah ekonomi sdgkn ntuk membuat TPA itu butuh biaya besar n jg butuh alokasi tempat yg luas. toh klo kita bwt TPA di pesisir apa tdk mengurangi lahan di daerah tersebut dan apa alokasi dana yg digunakan tdk sebaiknya diperuntukkan dgn masalah yg lebih besar karena pemerintah kita bukan hanya mengurus sampah tp masih banyak masalah kehidupan dan masalah sosial lainnya yg mungkin lebuh berarti.
makasih ibu ummul wassalam

Anonim mengatakan...

untuk pertanyaan saudari ummul yg terakhir sy kira seperti ini masalah pungutan atau yg retribusi sampah dr pemerintah itu bukannya g terlaksana tp sebgaimana yg kita lihat bahwa masalah pengankutan sampah itu sarananya di setiap KAB/ Kota itu terkendala masalah sarana dan pra sarana olehnya pemerintah memungut biaya untuk pengadaan sarana tersebut. dan yg kedua kenapa blm bs diangkut y itu td krn masalah transpor n petugas yg masih kurang sy kira pemerintah kita jg sdh memikirkan itu dan kita tahu bersama kita ini masih mjd negara berkembang jadi harap maklum jika prosesnya itu masih tahap penyesuaian n pembelajaran

Anonim mengatakan...

muh ishak sijaya

untuk pertAnyaam saudara makbul menurut sy jawabannya sdh jelas seperti ini Berdasarkan sudut pandang ekonomi, pengelolaan sampah yang tidak baik ini dapat menurunkan produktifitas dari kampung nelayan. Ada beberapa hal yang menyebabkan produktivitas ini menurun seperti, laut yang tercemar sehingga menurunkan hasil tangkapan, menurunkan minat dari konsumen untuk membeli produk langsung ke daerah nelayan dan berkurangnya kesempatan untuk pengembangan usaha. Pengelolaan sampah yang terpadu dan sesuai dengan karakteristik masyarakat sangat penting untuk diperhatikan dan diimplementasikan.

Anonim mengatakan...

muh ishak sijaya
70200106055
kelompok II

ok friend sy kira untuk semua pertanyaan sudah terkait satu sama lainnya oleh karena itu thanks tas koment dan tanggapannya jika masih ada yg kurang jelas mari kita koreksi n telaah kembali....
wassalam

Anonim mengatakan...

assalamualaikum

Anonim mengatakan...

NAMA:DINDA FEBRIANTIKA.B
NIM :7020016031

Assalamualikum Wr.Wb

Saya ingin bertanya, mengapa sistem pengolahan sampah di Negara maju dan berkembang itu berbeda. apa yang menyebabkannya...? serta bagaimanakah cara untuk menyamakannya??

Anonim mengatakan...

Umul Waqiah/70200106092 (klp.6)
assalamu 'alaikum...
Makasih banyak atas jawaban saudara Muh. Ischak Sijaya..
Puas banget!! tapi sebelumnya umul mau minta maaf karena ternyata pertanyaan dibatasi hanya 2 buah pertanyaan tiap orang, umul tidak tau sama sekali hal itu. Tapi kalo bisa dijawab seperti ini kan lebih bagus. Yang tidak tahu menjadi tahu dan yang tahu akan semakin tahu.
Thanks ya dah mau sharing!!

Anonim mengatakan...

dina fauziah
klp I

terima kasi atas pertanyaanya, kita ketahui bersama bahwa pola pikir dan pengaplikasian anatara negara maju dengan negara berkembang sangat berbeda,yang membedakan di sini adalah alat yang digunakan misalnya saja alat pengangkutannya yaitu menggunakan mobil yang tertutup sehingga tidak menimpulkan polusi udara.

masjuniaty mengatakan...

Masjuniarty/70200106081

Assalamualaikum....
Pertanyaan saya,bagaimana cara pengolahan sampah di kawasan pesisir???jelaskan.

Anonim mengatakan...

muh ishak sijaya

makasih untuk saudari ummul dan jg semuanya...
disini sy akan menambahkan jawaban dr saudari dina fausiah yg memaparkan ttg sistem pengolahan sampah di Negara maju dan berkembang.
mengapa terjadi perbedaan disini kita lihat karena perbedaan pola pemahaman n modernisasi ttg alat yg digunakan kenapa?
karena di negara maju sdh menggunakan alat yg sdh lebih canggih n di negara berkembang msh dtahap pembelajaran. dan untuk membuatnya sama sy kira disini bkn masalah negara maju atau berkembang tapi lebih mengarah ke personal masing2 biar dinegara maju lo kesadaran masyarakat yg kurang otomatis penanganannya akan rumit jg, sebaliknya walau di negara berkembang jika kesadaran masyarakat yg sudah peduli lingkungan insya allah hambatan penanganan sampah akan berkurang
makasih

Anonim mengatakan...

Nama: Emma Widiatmy Ismail
NIM : 70200106074
Assalamualaikum wr.wb.
Sy ingin bertanya kepada klmpok 2.
Setelah membaca makalah yg anda sajikan. Menurut sy, isi makalah anda kurang menekankan permasalahan sampah di wil.pesisir sehingga menimbulkan pertanyaan pada saya.....
1. Bagaimana tentang ekosistem2 yg ada di wil. pesisir: seperti ekosistem terumbu karang, ekosistem mangrove, ekosistem lamun, yg tercemar akibat sampah dan bgmn mengatasi masalah itu?
2.Jelaskan parameter apa yg digunakan untk mengetahui bahwa daerah pesisir tercemar, baik dr segi ekologi maupun biotanya? terima kasih atas perhatiannya....
wass.

Anonim mengatakan...

ratih puspitasari
nim; 70200106018

yang ingin sy tanyakan,apakh ada usaha-usaha yang di lakukan oleh pemerintah dalam menindak lanjuti pembuangan sampah yang dilakukan oleh nelayan ketika mereka melaut??
2. seprti yang kita ketahui slah satu penyebab rusaknya terumbu karang akibat banyaknya sampah yang di buang ke pantai,apakah ada cara yang bisa di gunakan agar sampah tersebut bisa menyuburkan terumbu karang dan bukan sebaliknya????

Anonim mengatakan...

muh ishak sijaya

sy akan menanggapi pertanyaan ratih
pertanyaan pertama
@ usaha yang di lakukan oleh pemerintah dalam menindak lanjuti pembuangan sampah yang dilakukan oleh nelayan ketika mereka melaut. makasih sebelumnya tetapi sy kira masalah ini sy belum pernah dengar dan jg belum pernah ada aturan yg mengikat karena untuk mengontrol hal tersebut sulit..menurut saya akan lebih baik jika disini pemerintah dan pihak terkait lebih fokus untuk meberi penyuluhan agar kesadaran masyarakat tentang sampah bs lebih baik. karena jika kesadaran nelayan akan sampah sdh baik otomatis tidak akan ada lg nelayan yg membuang sampah pd saat melaut
pertanyaan kedua...
apakah ada cara yang bisa di gunakan agar sampah tersebut bisa menyuburkan terumbu karang dan bukan sebaliknya? ok sy kira ini pertanyaan yg sangat bagus tp sebelumnya minta maaf sebagaimana yg sy ketahui masalah sampah di lautan itu blm ada yg pernah melakukan eksperimen ttg masalah sampah di pesisir untuk menyuburkan terumbu karang yg sy tahu hanya merusak? kenapa di air sbgaimana kita ketahui air tdk bs cepat menguraikan sampah organik dan an-organik apalgi plastik klo yg anda maksud seperti composting di tpa di darat itu g bs krn di laut g bs terjadi proses composting. selain itu terumbu karang kn letaknya di dasar laut otomatis untuk melakukannya itu harus butuh sarana y lebih canggih lg oleh karena itu pengolahannya selalu di pusatkan di darat. sy kira masalah kedua ini bs djadikan bahan petimangan untuk melakukan penelitian dan juga mudah2n sj akan ada yg menelitinya
wagh untuk ini sy minta maaf klo jwban sy g bs sesuai yg dharapkan krn hanya dsni sebatas kemampuan sy dr refrensi yg pernah sy baca dan dengarkan makasih

Anonim mengatakan...

muh ishak sijaya

untuk saudari emma makasih banyak atas kritikannya dsini bknnya kita mengupas tuntas ttg sampah di perkotaan sj tp kita membandingkan kawasan pesisir dan kawasan perkotaan
terkait cara penanganannya sy punya refrensi seperti ini
HUTAN MANGROVE/BAKAU
Menjaga kelangsungan pola-pola alamiah, skema aktivitas siklus pasang surut serta limpasan air tawar. Untuk struktur pesisir dan pola pengembangan yang berpotensi mengubah pola-pola alami tersebut, harus didesign untuk menjamin bahwa pola tersebut tetap terpelihara dengan cara:
? Memelihara pola-pola temporal dan spasial alami dari salinitas air permukaan dan air tanah. Pengurangan air tawar akibat perubahan aliran, pengambilan atau pemompaan air tanah seharusnya tidak dilakukan apabila menganggu keseimbangan salinitas di lingkungan pesisir.
? Memelihara keseimbangan alamiah antara pertambahan tanah erosi dan sedimentasi.
? Menjaga batas maksimum untuk seluruh hasil panen yang dapat diproduksi.
? Pada daerah-daerah yang memungkinkan terkena tumpukan minyak dan bahan beracun lainnya harus memiliki rencana-rencana penanggulangan.
? Mengembangkan ekosistem hutan mangrove terjadi mekanisme hubungan antara ekosistem mangrove dengan jenis-jenis ekosistem lainnya seperti padang lamun dan terumbu karang.
? Pengembangan sistem perakaran yang kokoh ekosistem hutan mangrove mempunyai kemampuan meredam gelombang, menahan lumpur dan melindungi pantai dari abrasi, gelombang pasang dan taufan.
? Peningkatan budidaya sebagai penghasil bahan organik yang merupakan mata rantai utama dalam jaring-jaring makanan di ekosistem pesisir, serasah mangrove yang gugur dan jatuh ke dalam air akan menjadi substrat yang baik bagi bakteri dan sekaligus berfungsi membantu proses pembentukan daun-daun tersebut menjadi detritus.
. PADANG LAMUN
Pelestarian zona atau kawasan padang lamun dilakukan dengan cara:
? Upaya penegakan hukum yang berlaku bagi pengrusak lingkungan.
? Pengembangan teknologi penangkapan ikan yang ramah lingkungan khususnya penangkapan ikan di daerah padang lamun.
? Perlu adanya pengembangan teknologi penangkapan di lepas pantai, sehingga intensitas penangkapan ikan di perairan pantai (khususnya di daerah padang lamun) bisa dikurangi.
? Upaya penyadaran kepada masyarakat pengguna, tentang peranan pentingnya padang lamun bagi kelestarian lingkungan serta dampaknya apabila area tersebut rusak.


TERUMBU KARANG
Terumbu karang merupakan tempat berkumpulnya komunitas ikan dengan berbagai macam ekosistem, maka diperlukan pelestarian dengan cara :
? Upaya penegakan hukum yang berlaku bagi pengrusak lingkungan.
? Pengembangan teknologi penangkapan ikan yang ramah lingkungan khususnya penangkapan ikan di daerah terumbu karang.
? Pengembangan budidaya laut, seperti mutiara dan rumput laut di sekitar karang sehingga secara tidak langsung terumbu karang bisa terjaga.
? Perlu adanya pengembangan teknologi penangkapan di lepas pantai sehingga intensitas penangkapan ikan di perairan pantai (khususnya di karang) bisa dikurangi.
makasih

Anonim mengatakan...

Nama: Muarifa Muslimin
Nim : 70200106083
kelompok IV
assalamualaikum...
saya ingin bertanya pada kelompok ini, Apakah menurut anda pembakaran sampah itu sudah cukup bagus dalam menangani atau mengurangi dampak lingkungan..? karena seperti yang kita ketahui bahwa dari hasil pembakaran tersebut juga dapat membahayakan lingkungan, karena dari asap2 yg keluar itu kan mengandung zat2 kimia misalnya plastik yg terbakar yang dpt mencemari udara. skian n trims.. wasalam

Anonim mengatakan...

abd majid hr lagu
sebelumnya terima kasih atas jawaban dari ishak meskipun tdk menjawab pertanyaan pertama saya namun jawaban anda cukup menarik untuk dikementari.anda mengatakan bahwa strategi pemecahan masalah sampah adalah dengan metode pendekatan yang baru serta merubah paradigma dalam penanganan sampah. pertanyaan saya adalah :
1. metode pendekatan seperti apa yang anda maksudkan?
2. bagaimana langkah anda untuk merubah sebuah paradigma karena masalah paradigma adalah masalah yang cukup riskan.

Anonim mengatakan...

nama : imran
nim : 70200106076
assalamualaikum wr.wb
saya minta kepada teman-teman kelompok II agar seluruh anggota kelompoknya berperan aktif. karena saya perhatikan hanya satu dua orang saja yang sangat dominan memberikan jawaban maupun tanggapan..
terimaksih sebelumnya!

Anonim mengatakan...

nama : Amriati
nim : 70200106001
kelompok 1

assalamu alaikum....!!!
saya ingin bertanya kepada anda mengenai pengelolaan sampah terutama daerah pesisir.apakah penduduk setempat mengalami kendala dalam mengelola sampah yang ada dikawasan pesisir?? jika ada...metode apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi kendala tersebut??

terima kasih.

Anonim mengatakan...

Nama:SAHRIANI
NIM :70200106044

Terima kasih banyak atas pertanyaan dari saudari DINDA PEBRIANTIKA cara pengolahan sampah di negara maju dan negara berkembang berbeda karena negara maju dan negara berkembang mempunyai devisa/pendapatan yang berbeda,negara maju pasti mempunyai pendapatan yang lebih
tinggi di banding dengan negara berkembang. Di lihat dari tingkat pendapatan kedua negara yang berbeda maka tingkat pengolahan sampahnya pun berbeda karena pengolahan sampah membutuhkan alat-alat yang harganya cukup besar dan pola fikir dari ke dua negara tersebut pun yang berbeda. Kemudian pertanyaan selanjutnya saya sangat sulit untuk menyamakan cara pengolahan sampah dari ke dua negara tersebut karena negara berkembang sangat jauh ketiggalan di bandingkan dengan negara maju di sebabkan karena tingkat pendapatan yang berbeda.Thx atas pertanyaanya.